Toga Hitam Syofwatilah dan Chairul S Matdiah

Bongkar Rahasia Eksistensi Chairul S Matdiah, Syofwatillah: Bantu Orang Tanpa Hitung-Hitungan, Bukan Politisi ‘Kacang Lupa Kulit’

FAKTA – Dibalik panggung politik yang seringkali dinilai kaku dan penuh kepentingan, terselip sebuah kisah tentang persahabatan yang melampaui angka dan jabatan. Syofwatilah Mohzaib, atau yang akrab disapa Opat, membuka tabir mengenai sosok yang selama ini menjadi teladan baginya, Chairul S Matdiah.

Bagi Opat, eksistensi Chairul yang mampu bertahan hingga tiga periode di kursi legislatif bukanlah sebuah kebetulan. Rahasianya sederhana namun langka, yaitu sebuah ketulusan yang tidak pernah mengenal kalkulator (hitung-hitungan).

“Kak Chairul S Matdiah yang aku kenal adalah orang yang punya visi menolong orang,” ujar Opat mengawali perbincangan.

Bagi Opat, Chairul bukan sekadar kolega politik, melainkan sosok dengan visi misi hidup untuk menolong sesama. Hal ini, menurutnya, termin jelas dari profesi pengacara yang ditekuni Chairul selama puluhan tahun.

“Kenapa menolong orang? itu terbukti dari dia menjadi lawyer. Lawyer adalah pengacara, tugasnya adalah membantu orang yang terkena masalah hukum khususnya. Saya melihat Chairul S Matdiah sosok luar biasa di bidang hukum dan itu sudah terbukti,” ujar pria kelahiran Serang, Banten, 14 April 1976.

Satu hal yang paling dikagumi Opat adalah kemampuan Chairul menjaga marwah persahabatan di atas kepentingan politik. Ia mencatat bagaimana banyak orang di dunia politik mendadak tak acuh saat berbeda arah dukungan, namun tidak demikian dengan Chairul.

​”Beliau itu loyal dan rendah hati (humble), bisa masuk ke lingkaran mana saja. Paling penting, beliau setia dengan sahabat. Meski ada masalah politik, beliau tidak terpengaruh,” ujar Opat dengan nada kagum.

“Aku bekawan (bersahabat) dengan beliau dari dulu sampai sekarang masih bersahabat, walaupun ada masalah politik beliau tidak terpengaruh. Kita tahu yang namanya politik kalau sudah beda arah dan tujuan kadang-kadang ada yang cak cak dak kenal (pura-pura tidak tahu) dan idak negur (tidak menegur), tapi beliau tidak seperti itu. Itu saya salut punyo dulur (saudara) dan sahabat seperti Chairul S Matdiah,” puji Opat.

Opat menekankan bahwa sikap Chairul merupakan cerminan dari ajaran Islam yang memegang teguh prinsip Innamal mu’minuna ikhwatun (sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara).

“Kita mengajar anak dewasa, tapi kita juga harus dewasa, harus bisa memahami di mana masalah politik, di mana masalah pekerjaan, di mana masalah persahabatan karena ini ajaran Islam. Apa ajaran Islam? Innamal mu’minuna ikhwatun, atau yang namanya mukmin itu bersaudara,” katanya.

“Saya melihat Kak Chairul memegang ayat Alquran ini. Persaudaraan tidak mengenal masalah. Itulah mengapa beliau bisa konsisten dan istiqomah bertahan hingga tiga periode di kancah politik,” tambahnya.

Bagi Opat, kebaikan Chairul bukan sekadar teori. Ia mengenang momen-momen sulit saat Chairul hadir memberikan bantuan tanpa pamrih.

“Pengalaman saya, beliau membantu saat saya kesulitan, dan itu luar biasa. Beliau bantu tanpa hitung-hitungan, benar-benar ikhlas,” katanya.

Ketulusan itu juga terlihat dari cara Chairul menghargai undangan. Opat mengisahkan bahwa Chairul hampir tidak pernah absen jika diundang.

“Kalau pun benar-benar tidak bisa hadir, beliau pasti kirim pesan singkat (WhatsApp), minta maaf karena ada urusan yang tak bisa ditinggal. Itu bentuk penghargaan tinggi kepada sahabat,” ujar Anggota DPR RI dua periode itu (2009-2014 dan 2014-2019).

Sejarah di Partai Demokrat dan Filosofi Kacang

Kedekatan keduanya bermula saat mantan Ketua DPR RI, Marzuki Alie, memperkenalkan Chairul kepada Opat yang saat itu menjabat sebagai Sekjen Demokrat tingkat provinsi.

“Saya kenal Kak Chairul dari Pak Marzuki Alie, beliau yang kenalkan ketika Chairul ingin bergabung ke Partai Demokrat. Saat itu, Pak Marzuki bilang ada pengacara bagus, relasi banyak, ajaklah masuk partai untuk bisa membantu Partai Demokrat,” ujar Opat menceritakan kembali perbincangan dengan Marzuki Alie.

Sejak bergabung, Chairul dikenal sebagai sosok yang all out. Salah satu catatan sejarah yang diingat Opat adalah peran besar Chairul dalam melobi dan mengenalkan Ishak Mekki hingga terpilih menjadi Ketua DPD Demokrat Sumsel saat itu.

“Beliau melobi saya untuk membawa Pak Ishak Mekki menjadi Ketua DPD Partai Demokrat. Waktu itu saya tidak kenal Pak Ishak Mekki, dan yang mengenalkan Pak Chairul,” katanya.

Opat juga memuji ketulusan Chairul S Matdiah dalam membesarkan Partai Demokrat. Menjabat sebagai Wakil Ketua DPD Partai Demokrat, Chairul ingin membesarkan partai.

“Salah satu cara membesarkan partai dengan mencarikan calon Ketua DPD Partai Demokrat, karena masa jabatan saya di provinsi waktu itu hampir berakhir. Di DPP Partai Demokrat saya menjabat Wakil Sekjen dan Koordinator Wilayah Sumsel, sementara Pak Marzuki Alie adalah Sekjen DPP Partai Demokrat,” terang alumni IAIN Raden Fatah Palembang itu.

Menutup penilaiannya, Opat memberikan sebuah pesan moral yang kuat melalui “Filosofi Kacang”. Menurutnya, banyak orang di zaman sekarang yang lupa akan asal-usulnya setelah mencapai kesuksesan.

​”Ada filosofi kacang lupa kulit. Kalau kulitnya diambil, kacangnya pasti tenggelam. Buktikan saja. Tapi Kak Chairul hari ini tidak tenggelam, malah timbul terus karena beliau tidak pernah lupa dengan kulitnya. Kita harus mencontoh Kak Chairul,” tegas Opat.

Opat berharap nilai-nilai istiqomah, konsistensi, dan loyalitas yang ada pada diri Chairul S Matdiah dapat menjadi teladan bagi generasi muda dalam memandang arti sebuah pengabdian dan kesetia-kawanan yang hakiki.

“Bagi yang membaca buku Chairul S Matdiah harus mencontoh sikap beliau. Kak Chairul ini istiqomah (lurus di jalan yang benar), konsisten, kesetiakawanan, keloyalitasan. Empat sikap itu harus dicontoh karena zaman sekarang kebanyakan orang seperti kacang lupa kulit,” kata Opat.

Naskah ini menjadi saksi bahwa di tengah riuhnya kekuasaan, integritas dan loyalitas tetaplah menjadi mata uang yang paling berharga. Dan Chairul S Matdiah, telah membuktikan hal itu selama tiga dekade pengabdiannya. (Ferly marison)