FAKTA — Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman memastikan pembangunan jembatan permanen di Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, segera direalisasikan menyusul insiden dramatis yang hampir merenggut nyawa seorang lansia pada Mei 2026. Infrastruktur yang selama ini dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi, kini memasuki tahap persiapan, menandai titik balik bagi mobilitas dan keselamatan warga.
Bupati, John Kenedy Azis, menyatakan komitmennya untuk mempercepat pembangunan jembatan penghubung di atas Sungai Batang Anai yang sebelumnya terputus akibat bencana hidrometeorologi pada 2025.
“Ini bukan lagi sekadar rencana. Kita ingin memastikan masyarakat tidak lagi mempertaruhkan keselamatan hanya untuk beraktivitas sehari-hari,” ujar John Kenedy dalam keterangan resminya.
Insiden yang menjadi pemicu percepatan pembangunan itu terjadi pada Minggu (3/5/2026). Seorang lansia, Afrizal Yatim (70), terseret arus sungai saat nekat menyeberang sungai. Kondisi debit air yang tinggi membuat upaya tersebut berujung nyaris fatal.
Dalam situasi genting, seorang pemuda setempat, Kadri Maiwansyah (25), bertindak cepat dengan terjun ke sungai dan menyelamatkan korban. Aksi heroik tersebut menjadi perhatian luas masyarakat dan pemerintah daerah.
Sebagai bentuk penghormatan atas keberanian dan kepedulian sosial generasi muda bernama Kadri, pemerintah daerah setempat memberikan penghargaan khusus kepada Kadri Maiwansyah. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati melalui Pj. Sekretaris Daerah, dalam upacara peringatan Hari Otonomi Daerah dan Hari Pendidikan Nasional, Senin (4/5/2026) di halaman kantor bupati setempat.
“Saya tidak pernah berpikir sejauh itu. Waktu itu hanya ingin menolong. Kalau akhirnya berdampak pada pembangunan jembatan, tentu ini jadi kebahagiaan tersendiri,” kata Kadri.
Sementara itu, Afrizal Yatim menyampaikan harapannya agar pembangunan jembatan dapat segera terealisasi. Ia mengaku selama ini warga hidup dalam keterbatasan akses, terutama saat kondisi cuaca memburuk.
“Kami sangat berharap jembatan ini segera dibangun. Dulu kalau hujan, saya tidak berani pulang karena air besar,” ujarnya.
Rencana pembangunan jembatan tersebut dinilai akan membawa dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat. Selain meningkatkan keselamatan, akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi warga diproyeksikan akan semakin lancar.
Selama ini, warga harus menempuh jalur alternatif dengan waktu tempuh hingga 30 menit untuk mencapai fasilitas umum. Dengan adanya jembatan, waktu perjalanan diperkirakan akan terpangkas drastis.
Pemerintah daerah juga memastikan proyek ini akan masuk dalam prioritas pembangunan infrastruktur wilayah, dengan pengawasan ketat agar proses berjalan tepat waktu.
Kisah di Anduriang menjadi pengingat bahwa satu peristiwa nyaris tragis dapat memicu perubahan kebijakan yang lebih responsif. Dari kondisi darurat, kini masyarakat bersiap menyambut hadirnya jembatan permanen sebagai penghubung masa depan.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, warga Anduriang tak lagi harus berhadapan dengan derasnya arus sungai untuk menjalani kehidupan, melainkan cukup melangkah di atas jembatan yang aman dan layak. (ss)






