Sound Horeg dan Agustusan, Antara Hiburan, Tradisi, dan Larangan Makin Ketat

Pemkot Malang menegaskan bahwa penggunaan sound horeg dilarang dalam rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan, termasuk pawai budaya dan karnaval. (Foto : fbsound/Majalahfakta.id)

FAKTA – Ada sesuatu yang selalu berubah setiap kali bulan Agustus datang. Jalan-jalan kampung mulai dihiasi Merah Putih. Umbul-umbul berdiri di depan rumah. Anak-anak berlatih untuk karnaval. Lapangan mendadak menjadi arena lomba.

Sementara di malam hari, suara warga yang mempersiapkan berbagai kegiatan terdengar dari sudut-sudut kampung.

Agustusan memang identik dengan kemeriahan. Namun, jika ditarik ke belakang, perayaan Hari Kemerdekaan di kampung-kampung dulu sebenarnya jauh lebih sederhana.

Tidak ada panggung besar. Tidak ada layar LED. Tidak ada hadiah mahal. Bahkan untuk memenangkan lomba, hadiah yang dibawa pulang terkadang hanya berupa sabun, minyak goreng, alat tulis atau makanan ringan.

Tetapi anehnya, warga tetap berebut ikut. Bukan karena hadiahnya. Melainkan karena Agustusan dahulu menjadi salah satu kesempatan langka bagi warga untuk berkumpul dan bersenang-senang bersama.

Ketika Lomba 17 Agustus Tak Butuh Hadiah Mewah

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, suasana Agustusan mungkin menyimpan nostalgia tersendiri.

Lomba makan kerupuk, balap karung, memasukkan pensil ke dalam botol, pecah balon, tarik tambang hingga panjat pinang menjadi hiburan yang hampir selalu ada.

Peralatannya pun sederhana. Karung bekas bisa berubah menjadi perlengkapan balap. Botol bekas digunakan untuk lomba memasukkan pensil. Kerupuk digantung menggunakan tali. Lapangan tanah menjadi arena pertandingan.

Kemeriahan lomba bukan berasal dari fasilitasnya. Tetapi orang-orangnya.

Anak-anak berteriak dari pinggir lapangan. Orang tua tertawa melihat peserta jatuh. Bapak-bapak ikut tarik tambang. Ibu-ibu sibuk menyiapkan konsumsi.

Tidak ada yang terlalu memikirkan apakah hadiahnya mahal, yng penting, kampung ramai.

Agustusan dan Tradisi Gotong Royong

Ada satu hal yang mungkin semakin sulit ditemukan dalam kehidupan masyarakat modern, gotong royong yang lahir secara spontan.

Menjelang 17 Agustus, warga biasanya bekerja bersama membersihkan lingkungan. Ada yang mengecat gapura. Ada yang memasang bendera. Ada yang membuat hiasan. Ada yang mengumpulkan iuran. Ada pula yang menjadi panitia lomba. Semua memiliki peran.

Tidak harus memiliki jabatan atau kemampuan khusus. Bahkan anak-anak pun bisa ikut membantu.

Dari aktivitas sederhana tersebut, Agustusan sebenarnya memiliki fungsi sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar perayaan kemerdekaan.

Ia menjadi momentum untuk mempertemukan kembali warga yang sehari-hari mungkin jarang bertegur sapa.

Sekarang, Agustusan Semakin Meriah

Seiring perkembangan zaman, wajah perayaan kemerdekaan ikut berubah.

Karnaval kampung semakin besar. Sound system berdaya tinggi mulai menjadi bagian dari sejumlah acara. Hadiah perlombaan juga semakin beragam.

Di sejumlah daerah, karnaval bahkan mampu mendatangkan ribuan penonton. Media sosial ikut memperbesar fenomena tersebut.

Kegiatan yang sebelumnya hanya diketahui warga satu desa kini bisa direkam dan tersebar ke berbagai daerah melalui TikTok, Instagram, Facebook maupun YouTube.

Semakin meriah sebuah acara, semakin besar pula peluangnya menjadi tontonan. Namun, di sinilah persoalan baru muncul.

Apakah kemeriahan harus selalu identik dengan suara yang semakin keras ?

Ketika Sound Horeg Masuk ke Karnaval Agustusan

Fenomena penggunaan sound horeg dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk karnaval, dalam beberapa tahun terakhir menjadi perdebatan di Jawa Timur.

Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai bentuk hiburan dan bagian dari perkembangan budaya karnaval.

Namun, sebagian lainnya mengeluhkan suara yang terlalu keras karena dianggap mengganggu ketenangan warga dan berpotensi menimbulkan persoalan ketertiban.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Polda Jatim dan Kodam V/Brawijaya sebelumnya telah mengatur penggunaan sound system melalui Surat Edaran Bersama.

Dalam aturan tersebut, sound system nonstatis, termasuk yang digunakan dalam kegiatan karnaval, dibatasi maksimal 85 dBA.

Sementara sound system statis memiliki batas berbeda, yakni maksimal 120 dBA. Aturan tersebut juga mengatur kendaraan pengangkut, perizinan, waktu, rute serta sejumlah kondisi ketika pengeras suara wajib dimatikan.

Artinya, persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak boleh menggunakan pengeras suara. Ada aturan yang harus dipatuhi.

Malang Bahkan Melarang Sound Horeg untuk Agustusan

Memasuki peringatan HUT ke-81 RI tahun 2026, Pemerintah Kota Malang mengambil sikap lebih tegas.

Pemkot Malang menegaskan bahwa penggunaan sound horeg dilarang dalam rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan, termasuk pawai budaya dan karnaval.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyatakan kebijakan tersebut tetap berlaku pada perayaan Agustusan 2026. Pengawasan dilakukan bersama unsur pemerintah dan aparat keamanan.

Kebijakan tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua bentuk kemeriahan dapat dilakukan tanpa batas.

Di satu sisi masyarakat ingin merayakan kemerdekaan dengan meriah.

Di sisi lain, ada hak masyarakat lain untuk mendapatkan lingkungan yang aman, nyaman dan tidak terganggu kebisingan berlebihan.

Di sinilah tantangannya. Meriah Tidak Harus Bising. Agustusan sejatinya tidak membutuhkan perlombaan mahal untuk menjadi meriah. Tidak harus ada panggung raksasa.

Tidak harus ada sound system dengan dentuman yang membuat kaca rumah bergetar.

Bahkan tanpa semua itu, sebuah kampung tetap bisa merayakan kemerdekaan dengan penuh kegembiraan.

Sebab, yang membuat perayaan 17 Agustus berkesan sebenarnya bukan seberapa besar suara musik yang terdengar.

Melainkan seberapa banyak orang yang terlibat. Anak-anak yang tertawa saat lomba.

Bapak-bapak yang saling menyemangati ketika tarik tambang. Ibu-ibu yang sibuk menyiapkan makanan.

Pemuda yang bekerja sampai malam membuat dekorasi. Dan warga yang rela meluangkan waktu untuk berkumpul meski kesibukan sehari-hari tidak pernah berhenti.

Dari Sabun hingga Hadiah Jutaan Rupiah

Dulu, hadiah lomba mungkin hanya sabun mandi. Sekarang bisa berupa uang tunai, sepeda, peralatan elektronik bahkan hadiah bernilai jutaan rupiah.

Dulu, karnaval cukup menggunakan pengeras suara sederhana. Kini beberapa acara mampu menghadirkan perangkat audio berukuran besar.

Dulu, warga berkumpul karena ingin bertemu. Sekarang, sebagian kegiatan juga mengejar kemeriahan dan perhatian media sosial.

Perubahan tersebut sebenarnya tidak salah. Zaman memang berubah. Yang penting, semangat kebersamaan jangan sampai hilang hanya karena cara merayakannya berubah.

Agustusan Seharusnya Tetap Menjadi Ruang Bersama

Pada akhirnya, perdebatan mengenai sound horeg seharusnya tidak membuat esensi perayaan kemerdekaan terlupakan.

Agustusan adalah momentum untuk merayakan kemerdekaan. Tetapi kemerdekaan juga berarti memahami bahwa kita hidup berdampingan dengan orang lain.

Ada warga yang ingin menikmati karnaval. Ada warga yang mungkin sedang sakit. Ada bayi yang membutuhkan ketenangan. Ada lansia. Ada tempat ibadah. Ada sekolah dan fasilitas kesehatan.

Karena itu, merayakan kemerdekaan bukan hanya soal seberapa keras kita bisa bersuara, tetapi juga seberapa dewasa kita menghargai orang lain.

Mungkin sudah waktunya semangat Agustusan kembali pada hal yang paling sederhana. Berkumpul, bergembira, bersaing secara sehat, gotong royong dan pulang membawa cerita.

Sebab, pada akhirnya, kemerdekaan bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, melainkan tentang bagaimana kita bisa merayakannya tanpa menghilangkan hak orang lain untuk merasa nyaman. (F1)

Editor : Marthin