Lahat, majalahfakta.id – Lebih dari 3,5 ton ikan berhasil dipanen dari program budi daya keramba jaring apung binaan PT Bara Alam Utama (BAU) di Desa Telatang, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat. Capaian ini bukan sekadar keberhasilan budi daya ikan, tetapi juga menjadi ujian sejauh mana perusahaan tambang di kawasan Merapi Area serius mendukung pemberdayaan masyarakat.
Di tengah keberhasilan tersebut, Ketua Forum Pemuda Peduli Merapi (FP2M), Sudarman alias Panglima BZWin, melontarkan kritik tajam terhadap perusahaan yang dinilai belum memberikan dukungan terhadap program pemberdayaan masyarakat di wilayah operasionalnya.
Keberadaan perusahaan pertambangan semestinya tidak hanya berorientasi pada aktivitas eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga meninggalkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Kegiatan panen ikan bersama yang berlangsung di Desa Telatang ini merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) melalui budi daya ikan dalam keramba jaring apung yang menjadi mitra binaan PT BAU.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Lahat yang diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan, Chandra, SH, MM, Ketua FP2M Sudarman beserta anggota; Camat Merapi Barat Heri Yulianto, S.Sos, MM, beserta Sekcam Saihul, SE, MM; Camat Merapi Timur Yayan, SE, MM; manajemen PT BAU; jajaran manajemen Unsela Lahat; perwakilan Koramil Merapi, Kapten CAJ M. Koderi Ramadani; tim Perusda Lahat; serta Kepala Desa Telatang, Cik Edi.
Target 3 Ton, Hasil Panen Tembus 3,5 Ton
Dalam laporannya, Ahmad Syari Kurnianto, S.Pd.I, mengungkapkan bahwa program budi daya ikan tersebut mulai berjalan sejak Januari. Untuk mendukung kegiatan itu, dibangun empat unit kolam, jembatan apung sepanjang 50 meter, gudang, serta pengadaan 12.000 ekor ikan beserta sarana budi daya, vitamin, dan pakan. Hasilnya cukup menggembirakan. Tingkat kematian ikan dilaporkan hanya sekitar 1 persen, sedangkan hasil panen mencapai lebih dari 3,5 ton, melampaui target awal sebesar 3 ton.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa program pemberdayaan masyarakat tidak harus berhenti pada seremoni atau penyaluran bantuan. Dengan pengelolaan yang baik, program PPM dapat menghasilkan produk nyata yang berpotensi menjadi sumber pendapatan masyarakat.
Namun, pekerjaan belum selesai. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil panen terserap pasar dan usaha budi daya tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
Ahmad menjelaskan, Tim FP2M telah berkoordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menjajaki pemasaran ikan. Akan tetapi, upaya tersebut masih terkendala karena kebutuhan pasokan lebih mengutamakan ayam. Meski demikian, pihaknya telah mendapatkan pengepul yang bersedia menyerap hasil panen.
Sudarman: Jangan Hanya Mengeruk Hasil Bumi, Masyarakat Harus Ikut Merasakan Manfaatnya
Dalam arahannya, Sudarman menegaskan bahwa dukungan perusahaan sangat menentukan keberlangsungan program pemberdayaan masyarakat di kawasan Merapi Area.
Menurutnya, meskipun FP2M baru berusia sekitar 1 tahun 6 bulan, organisasi tersebut telah memperoleh dukungan dari PT BAU dan PT Bukit Asam (PTBA), serta Pemerintah Kabupaten Lahat. “Walaupun FP2M baru berumur 1,6 tahun, kita sudah mendapatkan dukungan dari dua perusahaan yang ada di Merapi Area, yaitu PT BAU dan PTBA, serta mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lahat,” ujar Sudarman, yang akrab disapa Panglima BZWin.
Namun, beliau menyayangkan belum meratanya dukungan perusahaan terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Sudarman secara khusus menyinggung PT Priamanaya yang menurutnya belum memberikan dukungan kepada FP2M sebagaimana yang diharapkan. Ia berharap perusahaan tersebut turut mengambil bagian dalam program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
Kritik tersebut menjadi pengingat bahwa tanggung jawab sosial perusahaan bukan sekadar soal keberadaan program di atas kertas. Masyarakat membutuhkan kegiatan yang hasilnya dapat dirasakan, baik melalui peningkatan pendapatan, pembukaan peluang usaha, maupun penguatan ekonomi lokal.
Pertanyaannya, jika perusahaan beroperasi dan memperoleh manfaat dari sumber daya alam Merapi Area, sejauh mana manfaat tersebut kembali kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya? Bagi FP2M, dukungan terhadap pemberdayaan masyarakat tidak semestinya hanya bertumpu pada satu atau dua perusahaan. Diperlukan keterlibatan lebih luas agar program ekonomi produktif dapat berkembang dan menjangkau lebih banyak warga.
PT BAU: Pemberdayaan Harus Memikirkan Masa Depan Warga
Sementara itu, perwakilan manajemen PT BAU, Alberta, SH, menyampaikan bahwa kehadiran perusahaan tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas pertambangan, tetapi juga bagaimana memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk ketika kegiatan penambangan telah berakhir.
Menurutnya, program budi daya ikan tersebut dapat menjadi contoh yang perlu dievaluasi untuk melihat manfaatnya bagi masyarakat dan peluang pengembangannya ke depan.
Pesan ini menjadi penting bagi kawasan pertambangan seperti Merapi Area. Sebab, sumber daya alam tidak selamanya dapat dieksploitasi. Ketika aktivitas tambang berakhir, masyarakat tetap membutuhkan sumber penghidupan yang dapat diandalkan.
Karena itu, program budi daya ikan di Desa Telatang diharapkan tidak berhenti pada keberhasilan panen perdana. Pengembangan pasar, pendampingan usaha, ketersediaan pakan, serta keberlanjutan produksi menjadi pekerjaan penting agar program tersebut benar-benar mampu menopang ekonomi warga.
Panen Selesai, Komitmen Perusahaan Kini Diuji
Panen lebih dari 3,5 ton ikan di Desa Telatang memberikan gambaran bahwa program pemberdayaan masyarakat dapat menghasilkan sesuatu yang konkret. Namun, keberhasilan satu program belum cukup untuk menjawab tantangan ekonomi masyarakat di kawasan pertambangan. Diperlukan komitmen berkelanjutan dari perusahaan, pemerintah, dan kelompok masyarakat agar kegiatan serupa tidak berhenti setelah seremoni panen selesai.
Bagi perusahaan tambang di Merapi Area, dukungan terhadap masyarakat semestinya bukan sekadar pilihan, melainkan bagian penting dari tanggung jawab sosial.
Kini, yang dibutuhkan bukan hanya janji pemberdayaan, tetapi bukti nyata: berapa banyak masyarakat yang memperoleh manfaat, berapa besar peluang ekonomi yang tercipta, dan seberapa kuat usaha warga bertahan ketika tambang tak lagi beroperasi.
Apresiasi dari Bupati Lahat Bursah Zarnubi, SE di sampaikan Asisten Pemberdayaan Chandra SH, MM atas kegiatan ini. (Bambang MD)






