FAKTA – Gunung Bromo kembali menghadapi persoalan serius. Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Agustus 2026 terus meluas hingga memaksa pengelola menutup akses wisata untuk menjaga keselamatan pengunjung sekaligus mempercepat proses pemadaman.
Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan lama, mengapa kawasan Bromo begitu rentan terbakar ?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana karena sedang musim kemarau.
Kondisi alam memang membuat kawasan savana Bromo lebih mudah terbakar.
Saat kemarau, vegetasi di kawasan terbuka seperti savana dan padang rumput mengalami pengeringan.
Rumput, semak, dedaunan, serta material tumbuhan yang mati kemudian menjadi bahan bakar alami ketika bertemu sumber panas atau api.
Kondisi tersebut dapat semakin berbahaya ketika disertai cuaca panas, udara kering dan angin yang membantu mempercepat penjalaran api.
Namun, faktor alam bukan satu-satunya persoalan. Balai Besar TNBTS dalam kasus kebakaran terbaru menduga api bukan berasal dari faktor alam, melainkan berkaitan dengan aktivitas manusia.
Pemerintah kemudian menyerahkan proses penyelidikan penyebab kebakaran kepada aparat penegak hukum.
Artinya, persoalan kebakaran Bromo tidak bisa hanya dilihat sebagai konsekuensi musim kemarau.
Bromo Punya Riwayat Kebakaran
Kebakaran di kawasan Bromo bukan kejadian baru. Pada 2024, misalnya, BNPB mencatat kebakaran melanda kawasan Gunung Batok yang berada di wilayah TNBTS.
Saat itu api cepat menyebar karena kondisi kawasan yang kering akibat musim kemarau berkepanjangan.
Kebakaran juga pernah terjadi di kawasan savana Bromo pada tahun-tahun sebelumnya.
Dalam laporan kebakaran pada 2017, kawasan Bukit Savana Bromo terbakar sekitar 50 hektare.
Saat itu kondisi vegetasi yang mengering akibat musim kemarau disebut menjadi salah satu faktor yang membuat kawasan mudah terbakar.
Sementara pada kebakaran 2023, perhatian publik tertuju pada penggunaan flare untuk sesi foto pranikah yang memicu kebakaran di kawasan savana.
Kasus tersebut bahkan berujung pada proses hukum.
Riwayat tersebut menunjukkan satu hal, ketika musim kemarau bertemu dengan sumber api, kawasan Bromo berada dalam posisi sangat rentan.
Percikan Kecil Bisa Berubah Menjadi Kebakaran Besar
Karakter kawasan savana menjadi salah satu persoalan. Vegetasi yang mengering dapat berfungsi seperti bahan bakar.
Ketika api muncul, kobaran dapat dengan cepat berpindah dari satu area ke area lain, terutama apabila kondisi angin mendukung.
Pengalaman penanganan kebakaran sebelumnya juga menunjukkan bahwa pemadaman di kawasan Bromo tidak selalu mudah.
Medan yang terjal, keterbatasan akses kendaraan dan kondisi vegetasi membuat petugas harus menyesuaikan metode pemadaman dengan kondisi lapangan.
Pada kebakaran sebelumnya, petugas bahkan harus menghadapi kondisi api yang menjalar dari kawasan Watu Kuto menuju savana Bukit Teletubbies hingga area Bantengan.
Faktor cuaca panas, vegetasi kering dan angin disebut mempercepat penyebaran api.
Karena itu, satu sumber api yang tampak kecil bisa berubah menjadi persoalan besar apabila muncul di lokasi yang tepat dan pada kondisi cuaca yang mendukung.
Ketika Wisata dan Risiko Kebakaran Bertemu
Bromo merupakan salah satu destinasi wisata alam paling populer di Jawa Timur.
Aktivitas wisata yang tinggi berarti intensitas manusia di kawasan tersebut juga tinggi.
Setiap pengunjung membawa konsekuensi terhadap pengelolaan kawasan, terutama ketika berada di area yang memiliki vegetasi sangat mudah terbakar.
Api unggun, puntung rokok, aktivitas memasak, hingga penggunaan benda yang menghasilkan percikan api menjadi hal yang harus benar-benar diawasi.
Namun, penting untuk tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kebakaran tertentu sebelum penyelidikan resmi selesai.
Dalam kasus kebakaran Bromo terbaru, aparat masih melakukan proses untuk memastikan sumber dan penyebab api.
Sudah jelas, risiko kebakaran di kawasan Bromo merupakan persoalan nyata dan berulang.
Bromo Bukan Sekadar Tempat Berfoto
Di balik panorama matahari terbit, lautan pasir dan hamparan savana yang selama ini menjadi daya tarik wisatawan, Bromo merupakan kawasan konservasi dengan ekosistem yang harus dijaga.
Karena itu, kebakaran tidak semestinya hanya dipandang sebagai gangguan terhadap aktivitas wisata.
Ada vegetasi yang terbakar, habitat yang terdampak, potensi gangguan terhadap ekosistem, serta kerugian ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata.
Kebakaran terbaru bahkan membuat seluruh akses wisata Gunung Bromo ditutup sementara.
Penutupan tersebut dilakukan bukan hanya untuk keselamatan wisatawan, tetapi juga agar proses penanganan kebakaran dapat berlangsung tanpa terganggu aktivitas kunjungan.
Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar “kapan Bromo dibuka kembali?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah ; apa yang harus dilakukan agar Bromo tidak kembali terbakar setelah musim kemarau berikutnya datang?
Sebab jika kebakaran terus berulang, persoalannya bukan lagi sekadar tentang api.
Ini menyangkut bagaimana manusia memperlakukan kawasan konservasi yang selama ini menjadi salah satu ikon wisata alam Indonesia. (F1)
Editor : Marthin






