Harga Pangan Padang Pariaman 29 September 2026: Bawang Merah Anjlok, Cabai dan Minyakita Justru Melonjak

Salah satu pedagang di pasar tradisional di Padang Pariaman. (Foto: SS)

Data Badan Pangan Nasional menunjukkan harga bawang merah turun 51,81 persen menjadi Rp20 ribu per kilogram. Di sisi lain, cabai merah keriting dan Minyakita menembus harga yang lebih tinggi.

Padang Pariaman, majalahfakta.id — Pergerakan harga pangan di Kabupaten Padang Pariaman pada Selasa, 29 September 2026, menunjukkan pola yang kontras. Sejumlah komoditas utama mengalami penurunan tajam, tetapi beberapa bahan pangan justru bergerak naik dan mulai menekan pengeluaran rumah tangga.

Data harga pangan yang ditampilkan Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat dan bersumber dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada pukul 14.59 WIB mencatat bawang merah menjadi komoditas dengan penurunan paling besar. Harganya berada di Rp20.000 per kilogram, turun 51,81 persen dibanding angka pembanding Rp41.500 per kilogram.

Penurunan juga terjadi pada bawang putih bonggol. Harga komoditas ini tercatat Rp30.000 per kilogram, atau turun 25 persen dari Rp40.000.

Namun, tren tersebut tidak berlaku untuk seluruh kebutuhan pokok. Cabai merah keriting justru mencapai Rp65.000 per kilogram, naik 18,18 persen dari harga pembanding Rp55.000.

Kenaikan juga terjadi pada sejumlah komoditas lain yang dekat dengan kebutuhan dapur dan sektor peternakan. Gula konsumsi naik 8,57 persen menjadi Rp19.000 per kilogram dari Rp17.500. Jagung tingkat peternak naik 17,24 persen menjadi Rp6.800 per kilogram, sedangkan kedelai biji kering impor naik 16,67 persen menjadi Rp14.000 per kilogram.

Minyakita Tembus Rp20 Ribu, Melebihi HET
Perhatian lain tertuju pada harga Minyakita. Komoditas minyak goreng program pemerintah itu tercatat Rp20.000 per liter, naik 27,39 persen dari harga pembanding Rp15.700.

Data Dinas Pangan Sumbar secara eksplisit memberikan penanda bahwa harga tersebut “melebihi HET” atau harga eceran tertinggi.

Kondisi ini membuat Minyakita menjadi salah satu komoditas yang patut mendapat perhatian dalam pemantauan harga pangan daerah. Sebab, minyak goreng merupakan kebutuhan harian rumah tangga dan perubahan harganya dapat langsung terasa pada belanja masyarakat.

Sebagai pembanding, minyak goreng curah tercatat Rp16.800 per liter, sedangkan minyak goreng kemasan berada di Rp22.000 per liter.

Beras Relatif Stabil

Di tengah perubahan harga sejumlah komoditas, harga beras di Padang Pariaman relatif terkendali.

Beras medium tercatat Rp13.100 per kilogram, turun 6,43 persen dari Rp14.000. Sementara beras SPHP berada di Rp13.100 per kilogram dan tercatat tidak mengalami perubahan.

Harga beras khusus lokal berada di Rp16.000 per kilogram dan juga tercatat tetap. Adapun harga beras premium dalam data tersebut tidak tercantum untuk harga saat ini, dengan angka pembanding Rp15.400.

Stabilitas harga beras menjadi salah satu indikator penting karena beras merupakan komoditas pangan utama masyarakat. Pergerakannya memiliki dampak langsung terhadap daya beli rumah tangga.

Harga Protein Hewani Ikut Bergerak

Pada kelompok pangan sumber protein, harga daging ayam ras tercatat Rp38.000 per kilogram, turun 5 persen dari Rp40.000.

Telur ayam ras juga mengalami penurunan. Harganya tercatat Rp26.500 per kilogram atau turun 11,67 persen dari Rp30.000.

Sementara itu, harga daging sapi murni masih bertahan di Rp140.000 per kilogram. Daging kerbau segar lokal juga berada pada level Rp140.000 per kilogram.

Untuk komoditas perikanan, harga ikan kembung tercatat Rp70.000 per kilogram, sedangkan ikan tongkol Rp35.000 per kilogram. Keduanya tidak menunjukkan perubahan dalam data pemantauan tersebut.

Tidak Semua Komoditas Bergerak Bersamaan

Jika dirangkum, data harga pangan Padang Pariaman pada 29 September memperlihatkan tiga pola utama, sejumlah komoditas mengalami penurunan, sebagian tetap, dan beberapa lainnya mengalami kenaikan cukup signifikan.

Komoditas yang turun antara lain bawang merah, bawang putih bonggol, beras medium, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Sebaliknya, cabai merah keriting, gula konsumsi, jagung tingkat peternak, kedelai impor, serta Minyakita mengalami kenaikan.

Sementara itu, sejumlah komoditas relatif tidak bergerak, antara lain beras khusus lokal, beras SPHP, daging kerbau segar lokal, daging sapi murni, garam konsumsi, ikan kembung, ikan tongkol, minyak goreng curah, minyak goreng kemasan, tepung terigu curah, dan tepung terigu kemasan.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga pangan di daerah tidak berlangsung seragam. Turunnya harga satu komoditas tidak otomatis berarti seluruh kebutuhan pokok ikut murah. Perubahan harga justru perlu dilihat per komoditas, terutama bahan pangan yang mengalami kenaikan paling tinggi.

Bagi konsumen, perkembangan harga cabai, gula, minyak goreng, jagung, dan kedelai menjadi bagian penting untuk dicermati karena kenaikan pada komoditas tersebut dapat berimbas pada biaya konsumsi rumah tangga maupun ongkos produksi pangan.

Adapun data ini merupakan pantauan harga Kabupaten Padang Pariaman per 29 September 2026, bersumber dari Badan Pangan Nasional sebagaimana ditampilkan pada laman resmi Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat. (SS)