Kritik Ketergantungan Pariwisata di HUT IWO, Pengamat Usulkan 5 Mesin Ekonomi Baru untuk Bali

Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri HUT IWO Bali. (Foto: fa)

Denpasar, majalahfakta.id — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14 Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia pada Minggu pagi (30/8/2026) sekaligus HUT ke-1 IWO Bali menjadi momentum strategis untuk menyelaraskan peran pers dengan ketahanan ekonomi dan masa depan Bali.

Dalam perayaan yang mengusung tema “Peran Pers Mengawal Pembangunan Bali” tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster dan Pengamat Ekonomi Trisno Nugroho menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor guna memastikan lompatan pertumbuhan pariwisata tidak hanya mencetak angka, tetapi benar-benar bermuara pada kesejahteraan masyarakat lokal dan kelestarian alam.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan kehadiran IWO merupakan instrumen penting di tengah pesatnya transformasi teknologi informasi yang menuntut kecepatan dan kemudahan akses. Di pusaran arus digitalisasi tersebut, Koster mengingatkan agar pers tetap berfungsi sebagai jembatan interaksi yang sehat antara pemerintah dan masyarakat.

Ia menuntut awak media untuk berani bersikap kritis, profesional, dan objektif dalam memotret realitas—baik capaian positif maupun kekurangan di lapangan—guna mengawal tata Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun.

Senada dengan itu, Ketua IWO Bali Tri Widiyanti berkomitmen bahwa proses diseminasi informasi ke depan akan terus mengedepankan objektivitas, keberimbangan, dan tanggung jawab sosial demi kepentingan publik.

Di sisi lain, narasi pembangunan Bali turut dibedah dari kacamata ketahanan finansial dalam sesi dialog publik. Pengamat Ekonomi dan Pariwisata, Trisno Nugroho, memaparkan bahwa meski proyeksi pertumbuhan ekonomi Bali diprediksi menembus angka 6,1 % sepanjang tahun 2026—jauh mengungguli rata-rata nasional—ketergantungan absolut pada satu mesin penggerak masih menyisakan kerentanan struktural.

Menjawab tantangan tersebut, Trisno menawarkan gagasan transformasi menuju pariwisata regeneratif yang tidak sekadar berfokus pada keberlanjutan, tetapi berupaya meninggalkan kondisi alam dan kapasitas lokal jauh lebih baik dari sebelumnya. Solusi fundamentalnya bukan dengan meminggirkan pariwisata, melainkan menjadikannya sebagai pasar raksasa bagi pertumbuhan ekosistem lokal.

Guna memecah konsentrasi perputaran uang yang selama ini hanya menumpuk di kawasan selatan, Trisno juga menyampaikan kepada Koster untuk pemerataan tata ruang lewat konsep besar “Satu Bali, Banyak Pusat Pertumbuhan”. Dengan Bali Selatan diproyeksikan tetap menjadi gerbang global, sementara wilayah pesisir barat difokuskan pada ekonomi laut, utara pada logistik, timur menguatkan desa wisata, serta bagian tengah sebagai pusat agrikultur bernilai tambah. (fa)