FAKTA – Di tengah berbagai tantangan pemulihan pascabencana yang masih dihadapi Kabupaten Padang Pariaman, secercah harapan muncul bagi ratusan siswa SD Negeri 05 Batang Anai. Sekolah yang terdampak bencana itu kini bersiap dibangun kembali setelah Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menjalin kerja sama dengan dua lembaga filantropi nasional melalui program pemulihan bencana atau Disaster Recovery Program.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) dan Paloma Sjahrir Foundation di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.
Kesepakatan itu ditandatangani langsung oleh Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, bersama pendiri YCAB Veronica Colondam dan perwakilan Paloma Sjahrir Foundation, Baskara Rosadi Van Roo.
Kerja sama tersebut menjadi langkah strategis dalam mempercepat rehabilitasi SD Negeri 05 Batang Anai yang mengalami kerusakan akibat bencana. Sekolah itu menjadi salah satu fasilitas pendidikan yang membutuhkan penanganan segera agar aktivitas belajar mengajar dapat berlangsung secara normal dan aman.
Bagi Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, pembangunan kembali sekolah bukan semata memperbaiki bangunan fisik yang rusak. Lebih dari itu, pemulihan sektor pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk memastikan anak-anak tetap memiliki akses terhadap pendidikan yang layak meskipun daerah mereka pernah diterpa bencana.
“Pemulihan pascabencana tidak hanya tentang membangun kembali gedung yang rusak, tetapi juga memastikan anak-anak kita dapat kembali belajar dalam lingkungan yang aman dan representatif. Karena itu, kami menyambut baik kerja sama ini sebagai bagian dari upaya bersama membangun masa depan generasi Padang Pariaman,” kata John Kenedy Azis usai penandatanganan kerja sama.
Pendidikan Jadi Prioritas Pemulihan
Bencana kerap meninggalkan dampak yang jauh melampaui kerusakan infrastruktur. Ketika sekolah rusak, proses belajar terganggu, kualitas pendidikan menurun, dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan merasakan dampaknya.
Karena itu, pemulihan fasilitas pendidikan menjadi salah satu agenda prioritas dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Menurut John Kenedy Azis, kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga sosial menjadi solusi penting untuk mempercepat pemulihan, terutama di tengah keterbatasan kemampuan fiskal daerah.
Ia menilai tantangan pembangunan saat ini tidak mungkin diselesaikan hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, organisasi sosial, hingga lembaga filantropi yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan sumber daya manusia.
“Pemerintah daerah akan terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung percepatan pembangunan daerah, khususnya dalam sektor-sektor yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.
Wujud Gotong Royong Modern
Kerja sama dengan YCAB dan Paloma Sjahrir Foundation menjadi contoh bagaimana semangat gotong royong berkembang dalam bentuk kolaborasi lintas sektor. Di satu sisi, pemerintah menyediakan dukungan kebijakan dan kebutuhan pembangunan. Di sisi lain, lembaga filantropi menghadirkan dukungan sumber daya untuk mempercepat realisasi program.
Model kolaborasi seperti ini semakin penting di tengah meningkatnya frekuensi bencana yang berdampak pada fasilitas publik, termasuk sekolah.
Program Disaster Recovery yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik sekolah, tetapi juga bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan sesuai standar pendidikan yang layak.
Pembangunan kembali SD Negeri 05 Batang Anai diharapkan mampu menghadirkan fasilitas yang lebih baik dibandingkan sebelumnya, sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi siswa dan tenaga pendidik.
Pembangunan Segera Dimulai
Dalam kesempatan tersebut, John Kenedy Azis mengungkapkan bahwa proses pembangunan akan segera memasuki tahap pelaksanaan. Pemerintah daerah bersama para mitra telah menyiapkan langkah-langkah teknis agar pekerjaan dapat segera dimulai.
Dalam waktu dekat, peletakan batu pertama akan dilakukan sebagai simbol dimulainya pembangunan kembali sekolah tersebut.
Langkah itu disambut positif oleh berbagai pihak karena menunjukkan adanya komitmen nyata untuk mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak bencana.
Bagi masyarakat Batang Anai, pembangunan kembali sekolah bukan sekadar proyek infrastruktur. Kehadiran ruang kelas yang layak menjadi simbol bangkitnya harapan setelah masa sulit yang mereka hadapi akibat bencana.
Investasi untuk Generasi Masa Depan
Pembangunan sekolah yang rusak akibat bencana sering kali dipandang sebagai bagian dari proses rehabilitasi. Namun bagi Padang Pariaman, proyek ini memiliki makna yang lebih besar.
Sekolah merupakan ruang tumbuh bagi generasi masa depan. Ketika fasilitas pendidikan pulih lebih cepat, peluang anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas juga semakin terbuka.
Karena itu, kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, YCAB, dan Paloma Sjahrir Foundation tidak hanya menjadi proyek pembangunan fisik semata, melainkan investasi sosial yang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi daerah.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan dan keterbatasan anggaran, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kepedulian sosial, semangat gotong royong, dan kemitraan lintas sektor masih menjadi modal penting dalam membangun daerah serta menjaga masa depan anak-anak Indonesia.
Ketika sebuah sekolah kembali berdiri, yang dibangun bukan hanya tembok dan ruang kelas. Yang sesungguhnya dibangun adalah harapan, kesempatan, dan masa depan generasi yang akan melanjutkan pembangunan bangsa. (SS)






