FAKTA – Ruang sidang di Gedung Bina Bakti Praja, Kota Batu tidak terasa seperti pengadilan. Lebih mirip pos pelayanan.
Ada meja panjang. Di satu sisi hakim, di sisi lain petugas Dispendukcapil. Di tengahnya, warga duduk dengan map cokelat di pangkuan.
Kamis, 16 Juli 2026. Hari itu Pengadilan Tinggi Agama Surabaya dan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menggelar Sidang Terpadu Perwalian Anak. Kota Batu jadi salah satu kota yang ikut.
Bu Siti datang paling awal. Di sampingnya ada Dafa, 7 tahun. Sudah 3 tahun Dafa tinggal bersamanya sejak orang tuanya merantau dan tidak kembali.
Selama ini Dafa tidak masuk KK. Mau daftar sekolah ditanya akta. Mau berobat ke puskesmas ditanya wali.
“Saya capek bolak-balik Pak. Dari kelurahan ke kecamatan, dari kecamatan ke pengadilan. Ongkos habis, cuti habis,” bisiknya sebelum dipanggil.
Hari ini berbeda. Dalam satu ruangan, Bu Siti dapat tiga hal sekaligus: penetapan perwalian dari hakim, legalisasi dari kejaksaan, dan langsung diarahkan ke meja Dispendukcapil untuk update KK.
Wali Kota Batu Nurochman dan Kajari Batu Arya Wicaksana menyaksikan proses itu.
“Ini bukan soal mempercepat berkas. Ini soal memulihkan hak anak,” kata Nurochman pelan.
Arya menambahkan, “Negara harus hadir sampai ke urusan paling dasar. Anak punya wali, punya identitas, punya masa depan.”
10 Kisah, 1 Tujuan
Total ada 10 permohonan perwalian yang diputus hari itu. Sepuluh cerita berbeda. Ada nenek yang mengasuh cucu. Ada paman yang jadi wali karena kecelakaan. Ada anak yatim yang dititipkan ke pondok.
Yang sama: mereka semua butuh kepastian.
Sidang ini juga meluruskan miskonsepsi. Pengadilan Agama bukan hanya tempat cerai. Di sini juga diputus soal perwalian, adopsi, asal-usul anak, itsbat nikah.
Dan efeknya terasa sampai ke data. Sepanjang 2026, permohonan dispensasi kawin di Kota Batu turun. Ketika anak punya wali hukum yang jelas, perlindungan mereka lebih kuat. Pernikahan dini bisa dicegah.
Selesai di Hari Itu Juga
Pukul 14.00, Bu Siti keluar dari gedung. Di tangannya ada salinan penetapan hakim. Di tangannya yang lain, bukti antrean cetak KK baru.
Dafa menggandeng tangannya. “Bu, besok aku bisa daftar sekolah ya?”
Bu Siti mengangguk. Matanya berkaca, tapi ia tersenyum.
Mungkin bagi sebagian orang ini hanya administrasi. Tapi bagi Bu Siti dan 9 keluarga lain, ini awal yang baru.
Karena kadang, keadilan itu bentuknya sederhana: nama anakmu tertulis dengan benar di atas kertas negara.
(F1015/mud)






