Ekbis  

Kementan RI-PERHEPI Perkuat Ekosistem Wirausaha Pertanian Menuju Indonesia Emas 2045

Kementan - PERHEPI berkolaborasi dalam Seminar Nasional Kewirausahaan dengan tema "Membangun Ekosistem Kewirausahaan Berkelanjutan untuk Mendorong Produktivitas, Inovasi, dan Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045" yang digelar di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026). (Foto: Dina/majalahfakta.id)

FAKTA – Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) bersama Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem kewirausahaan pertanian yang berkelanjutan. Upaya tersebut dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Kewirausahaan bertema “Membangun Ekosistem Kewirausahaan Berkelanjutan untuk Mendorong Produktivitas, Inovasi, dan Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026).

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dr. Idha Widi Arsanti, S.P., M.P., mengatakan pengembangan kewirausahaan pertanian tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga generasi muda agar tercipta ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.

“Kewirausahaan pertanian harus dibangun melalui ekosistem yang terintegrasi. Pemerintah, akademisi, organisasi profesi, dan pelaku usaha harus berjalan bersama agar petani memiliki akses terhadap pendampingan, inovasi, pembiayaan, hingga pasar,” ujar Idha.

Menurutnya, pemerintah juga terus mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian melalui berbagai program penguatan kapasitas dan pendampingan usaha.

Salah satu program yang dikembangkan adalah pemberdayaan wirausaha muda melalui pendekatan klaster. Peserta tidak hanya memperoleh pelatihan teknis, tetapi juga dibekali literasi keuangan, pemasaran, akses pembiayaan, hingga pendampingan bisnis agar mampu membangun usaha yang berkelanjutan.

“Kami membuka peluang seluas-luasnya bagi anak muda yang ingin masuk ke sektor pertanian. Mereka tidak kami biarkan berjalan sendiri, tetapi kami hubungkan dalam ekosistem yang memiliki akses terhadap produksi, pembiayaan, pendampingan, hingga pemasaran,” jelasnya.

Idha menambahkan, pemerintah juga tengah menyiapkan pengembangan program kewirausahaan pertanian pada 2027 dengan cakupan yang lebih luas. Program tersebut akan diperluas dari sebelumnya empat provinsi menjadi delapan provinsi disertai evaluasi menyeluruh agar aspek keberlanjutan semakin kuat.

Sementara itu, Pengurus PERHEPI, Dr. Etriya, S.P., M.M., menilai organisasi profesi memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan kewirausahaan nasional, khususnya di sektor pertanian.

Menurutnya, PERHEPI siap memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan minat generasi muda terjun ke sektor pertanian.

“PERHEPI ingin menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun kewirausahaan pertanian. Kami berharap semakin banyak anak muda melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan melalui inovasi, riset, dan kolaborasi yang berkelanjutan,” kata Etriya.

Ia menambahkan, inovasi yang lahir dari berbagai daerah diharapkan mampu menciptakan nilai tambah bagi produk pertanian sehingga meningkatkan daya saing sekaligus kesejahteraan petani.

Dalam kesempatan yang sama, Young Ambassador Agriculture, Gunawan Wibisana, mengaku program pendampingan yang dijalankan pemerintah memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha pertanian secara lebih profesional.

“Anak muda membutuhkan akses, jejaring, dan pendampingan. Ketika semua itu tersedia dalam satu ekosistem, mereka akan lebih percaya diri membangun usaha pertanian yang inovatif dan berkelanjutan,” ujar Gunawan.

Ia berharap semakin banyak pemuda bergabung dalam komunitas kewirausahaan pertanian sehingga lahir lebih banyak wirausaha muda yang mampu menjadi penggerak ekonomi di daerah.

Seminar nasional ini menjadi wadah konsolidasi antara pemerintah, akademisi, organisasi profesi, dan pelaku usaha dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan pertanian sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Selain meningkatkan produktivitas dan inovasi, penguatan kewirausahaan pertanian juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta memperkuat ketahanan pangan nasional. (Dina)