PESAN INDAH AL-QUR’AN 0120
FAKTA – Pagi itu, seorang pemimpin berdiri di panggung megah untuk menerima penghargaan atas keberhasilan organisasinya. Tepuk tangan bergemuruh. Namanya disebut sebagai sosok yang berhasil membawa perubahan besar.
Namun, di tengah kebanggaan itu, ia hampir lupa pada perjalanan panjang yang mengantarkannya ke sana. Ia lupa masa-masa ketika organisasinya hampir bubar, ketika rekan-rekannya bekerja tanpa banyak fasilitas, dan ketika banyak pintu yang semula tertutup akhirnya terbuka.
Dalam perjalanan pulang, ia melewati sebuah masjid dan mendengar lantunan ayat suci dari dalamnya. Ia teringat bahwa kemampuan, kesehatan, kesempatan, dan keberhasilan yang dimilikinya bukan semata-mata hasil kekuatannya sendiri. Ada nikmat Allah yang selama ini mungkin terlalu mudah ia anggap sebagai sesuatu yang biasa.
Ia pun bertanya kepada dirinya sendiri: apakah keberhasilan ini membuatnya semakin bersyukur kepada Allah, atau justru membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain?
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah atas nikmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam syukur, ketaatan, dan kerendahan hati.
ALLAH BERFIRMAN:
يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
Artinya:
“Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan (ingatlah) bahwa Aku telah melebihkan kamu atas semua umat (pada masa itu).” (QS. Al-Baqarah: 122)
PESAN TAFSIR
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mengingatkan Bani Israil akan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan kepada mereka, termasuk para nabi, kitab suci, dan pertolongan-Nya. Peringatan ini mengajak mereka mengingat karunia Allah dan memenuhi tanggung jawab atas nikmat tersebut.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, sebagai refleksi tematik, mengajak kita melihat bahwa karunia tidak semestinya melahirkan kesombongan. Nikmat dan kelebihan perlu disikapi dengan syukur serta tanggung jawab, bukan dijadikan alasan untuk merendahkan orang lain.
Tafsir Al-Jalalain menerangkan perintah kepada Bani Israil untuk mengingat nikmat Allah dan keutamaan yang diberikan kepada mereka pada masa itu. Keutamaan tersebut merupakan karunia Allah dalam konteks sejarah, bukan dasar untuk menyombongkan diri sepanjang zaman.
CERMIN DIRI
Kita mungkin tidak menerima nikmat dalam bentuk yang sama. Ada yang dianugerahi ilmu, jabatan, kesehatan, kekayaan, keluarga, atau kesempatan memimpin. Namun, setiap karunia mengundang pertanyaan: sudahkah kita mengingat Pemberinya dan menggunakan nikmat itu dengan benar?
Mensyukuri keberhasilan berarti tidak merasa menjadi satu-satunya penyebab kesuksesan. Kita tetap berusaha, menghargai orang-orang yang membantu, bersikap rendah hati, dan menggunakan kelebihan untuk menghadirkan manfaat.
Jangan sampai ketika nikmat bertambah, rasa syukur justru berkurang. Mengingat nikmat Allah bukan sekadar mengenang apa yang telah kita terima, melainkan menyadari tanggung jawab atas apa yang telah dipercayakan kepada kita.
Ya Allah, bantulah kami mengingat nikmat-Mu, mensyukurinya, dan menggunakannya untuk kebaikan. Jauhkan kami dari kesombongan ketika berhasil dan kelalaian ketika menerima karunia. Jadikan setiap kelebihan sebagai jalan untuk semakin taat kepada-Mu dan bermanfaat bagi sesama. Āmīn.
Iwan Muhajirin
24 Oktober 2026






