Mari Menjadikan Al-Qur’an Pedoman dalam Setiap Tindakan

Kesempurnaan pengamalan bukan berarti kita tidak pernah salah. (Foto : JPI)

PESAN INDAH AL-QUR’AN 0119

FAKTA – Setiap pagi, seorang pengusaha membuka Al-Qur’an sebelum berangkat ke kantornya. Bacaannya lancar, suaranya merdu, dan ia merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan membaca kalam Allah.

Namun, siang harinya, seorang karyawan datang dengan wajah cemas. Gajinya belum dibayarkan sesuai kesepakatan. Sang pengusaha mencari alasan untuk menundanya, padahal ia mampu membayar.

Dengan suara pelan, karyawan itu bertanya, “Pak, kita setiap hari belajar tentang amanah. Mengapa hak kami masih tertahan?”

Pertanyaan itu membuat sang pengusaha terdiam. Ia menyadari sesuatu yang menyakitkan: selama ini, Al-Qur’an telah sering melewati lisannya, tetapi belum sepenuhnya membimbing tindakannya.

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam mengimani dan mengamalkan wahyu.

ALLAH BERFIRMAN:

اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Artinya:

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan siapa yang ingkar kepadanya, mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 121)

PESAN TAFSIR

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa membaca kitab dengan semestinya tidak berhenti pada pelafalan. Maknanya mencakup mengikuti petunjuknya dan tidak menyimpangkan kebenarannya. Dalam konteks ayat, pembahasan merujuk kepada orang-orang yang menerima kitab terdahulu dan mengikuti petunjuknya dengan benar.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, sebagai refleksi penerapan nilai ayat, mengajak kita melihat hubungan antara keyakinan dan kehidupan nyata. Membaca wahyu semestinya mendorong manusia memperbaiki akhlak dan perilakunya. Ini merupakan penerapan tematik, bukan kutipan langsung dari Hamka.

Tafsir Al-Jalalain menerangkan ayat ini dalam konteks orang-orang yang menerima kitab dan membacanya sebagaimana mestinya. Ayat tersebut menegaskan pentingnya mengikuti petunjuk kitab, bukan sekadar mengenal atau melafalkannya.

CERMIN DIRI

Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia. Namun, mari melangkah lebih jauh: memahami pesannya, menghayati petunjuknya, dan berusaha mengamalkannya.

Jika Al-Qur’an mengajarkan amanah, tunaikanlah hak orang lain. Jika mengajarkan kejujuran, jangan memanipulasi laporan. Jika mengajarkan kasih sayang, jagalah lisan dan perlakukan sesama dengan baik.

Kesempurnaan pengamalan bukan berarti kita tidak pernah salah. Yang penting, setiap kali menyadari kekeliruan, kita bersedia bertobat, memperbaiki diri, dan kembali kepada petunjuk Allah.

Ya Allah, jadikan Al-Qur’an cahaya bagi hati kami, petunjuk bagi langkah kami, dan pedoman bagi setiap keputusan kami. Bimbing kami agar bacaan kami melahirkan pemahaman, pemahaman menumbuhkan keimanan, dan keimanan tercermin dalam akhlak serta amal kami. Āmīn.

Iwan Muhajirin

23 Oktober 2026