Surabaya, majalahfakta.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyaksikan pengukuhan kepengurusan Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Jawa Timur masabakti 2026-2031di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (19/9/2026) malam.
Pengukuhan kepengurusan baru ICMI Jawa Timur bukan sekadar seremoni organisasi, ujar Khofifah, melainkan menjadi titik awal untuk membangun kolaborasi antara pemerintah daerah dan kalangan cendekiawan.
Para cendekiawan memiliki peran strategis untuk membaca perubahan, memberikan arah, serta menghadirkan pengetahuan yang dapat diterapkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
“Jawa Timur ini bisa dibilang adalah paket lengkap. Sebagai wilayah Lumbung Pangan Nasional yang memiliki sumber daya alam beragam, Jatim juga menjadi salah satu Lumbung sumber daya manusia (SDM) berkualitas di Indonesia,” ujar Khofifah.
Kekuatan Jawa Timur dari sisi sumber daya pangan dan manusia dapat menjadi modal besar untuk mengembangkan berbagai riset dan inovasi. Ia pun mengajak ICMI Jawa Timur melihat Jawa Timur bukan hanya sebagai wilayah administratif, tetapi sebagai ruang pengembangan pengetahuan yang memiliki persoalan sekaligus potensi yang beragam.
“Jawa Timur dengan 42 juta jiwa penduduk dan berbagai potensi lainnya adalah sebuah laboratorium hidup atau Living Laboratory bagi para akademisi. Kami optimis bahwa berbagai penelitian, pengabdian masyarakat, dan program inovasi perguruan tinggi secara konsisten dapat diimplementasikan disini,” ucapnya.
Tidak hanya itu. Khofifah juga menyampaikan, Jawa Timur tercatat sebagai salah satu kekuatan utama pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sejak 2020 hingga semester I 2026, Jawa Timur menjadi provinsi dengan produksi padi dan beras tertinggi secara nasional.
Di sisi lain, kekuatan SDM Jawa Timur juga ditopang oleh ekosistem pendidikan pesantren yang besar. Jawa Timur tercatat memiliki 7.347 pondok pesantren dengan sekitar 660 ribu santri serta lebih dari 41 ribu ustaz dan ustazah.
Ekosistem tersebut, kata Khofifah, bukan hanya memiliki peran dalam pendidikan dan dakwah, tetapi juga merupakan modal intelektual, sosial, dan spiritual yang dapat dikembangkan untuk pemberdayaan masyarakat.
Besarnya potensi tersebut membuka ruang luas bagi penguatan riset dan inovasi, termasuk melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, pesantren, dunia usaha, serta organisasi cendekiawan seperti ICMI.
Khofifah menegaskan Pemprov Jawa Timur siap memberikan dukungan kebijakan dan membuka ruang kolaborasi untuk mendorong hasil riset perguruan tinggi agar tidak berhenti di lingkungan akademik. Riset diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut hingga menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk bersinergi dengan ICMI. Mari menjadikan kecendekiawanan sebagai kekuatan untuk memecahkan berbagai persoalan di tanah air Indonesia,” pesannya.
Ia melanjutkan, penguatan kerja sama ini juga sejalan dengan upaya menjadikan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Bagi Khofifah, tagline tersebut bukan sekadar jargon, tetapi membutuhkan kerja bersama yang berbasis pada potensi daerah, pengetahuan, inovasi, dan kemampuan SDM.
Ia juga berharap ICMI Jawa Timur dapat mengambil peran dalam memberikan rekomendasi berbasis pengetahuan sekaligus ikut memperkaya kebijakan publik di Jawa Timur. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan kapasitas riset yang dimiliki perguruan tinggi dan para cendekiawan.
Mitra Strategis
Sementara itu, Ketua Umum ICMI Pusat sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria menyambut baik gagasan Gubernur Khofifah. Ia berharap keberadaan ICMI Jatim dapat semakin memperkuat kebijakan yang berbasis pada science evidence base atau bukti ilmiah.
Menurut Arif, Jawa Timur memiliki modal yang kuat karena ditopang kekayaan sumber daya alam sekaligus sumber daya intelektual. Keberadaan berbagai perguruan tinggi dengan kapasitas akademik yang kuat menjadi potensi yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
“Jawa Timur itu kaya akan sumber daya alam dan kaya akan intelektual. Banyak kampus-kampus top yang ada di Jawa Timur. Saya kira ini adalah kekuatan yang sangat besar,” pujinya.
Arif juga berharap para cendekiawan ICMI Jawa Timur dapat mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengembangkan inovasi. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar berbagai gagasan dan inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap pemahaman, tetapi dapat diterapkan dan dibangun menjadi solusi.
Ia mendorong ICMI Jawa Timur untuk ikut memperkuat literasi masyarakat, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), hingga mendorong masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan dan mengembangkan teknologi.
“Jadi tidak hanya understanding, tetapi juga building. Gagasan-gagasan dari Ibu Gubernur dan Pak Wagub telah banyak kami dengar dan memang sangat futuristik untuk membuat Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara,” terangnya.
Kerja Sama
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, juga menyatakan bahwa pengukuhan ini merupakan starting point dari kerjasama dan ikhtiar bersama yang diharapkan dapat memberikan dampak yang sebesar-besarnya bagi masyarakat
Hal ini juga sejalan dengan tema besar yang diusung dalam pengukuhan kali ini yaitu mengembalikan dampak dan mengendalikan peran intelektual sebagai penuntun peradaban yang inklusif dan transformatif menuju Indonesia Emas.
“Untuk semua lini kecendekiawanan, banyak sekali ruang pengabdiannya di Jawa Timur. Saya berharap semoga ICMI Jawa Timur bukan hanya organisasinya yang besar tapi efeknya yang besar,” katanya. (yra)






