Rabab Galuk Terancam Langka, Wali Kota Pariaman Siapkan Creative Hub untuk Generasi Muda

Yota Balad saat membuka Gala Premier & Screening Film Dokumenter Budaya "Rabab Galuk" di Niru Coffee, Kota Pariaman, Minggu malam, 14 September 2026. (Foto : ss)

Film dokumenter Rabab Galuk menjadi pengingat bahwa warisan budaya Pariaman bisa hilang jika generasi muda tidak lagi mengenal dan merawatnya.

Pariaman, majalahfakta.id — Warisan budaya Rabab Galuk yang mulai langka mendapat perhatian Pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat. Wali Kota Pariaman Yota Balad mendorong pelestarian alat musik tradisional tersebut sekaligus menyiapkan ruang kreatif bagi generasi muda melalui rencana pembangunan Gedung Creative Hub.

Komitmen itu disampaikan Yota Balad saat membuka Gala Premier & Screening Film Dokumenter Budaya “Rabab Galuk” di Niru Coffee, Kota Pariaman, Minggu malam, 14 September 2026. Ia hadir didampingi Ketua TP PKK Kota Pariaman Ny. Yosneli Balad.

Menurut Yota, pemutaran film dokumenter tersebut bukan sekadar kegiatan seni dan hiburan. Film itu menjadi medium untuk mengenalkan kembali kekayaan adat dan budaya lokal yang mulai kurang dikenal masyarakat, terutama generasi muda.

“Pemerintah Kota Pariaman sangat mendukung anak-anak muda untuk menghidupkan komunitas. Di era digitalisasi ini, generasi muda harus bisa berkreasi dan berinovasi,” kata Yota.

Yota mengatakan Rabab Galuk merupakan salah satu warisan budaya khas Pariaman yang memiliki nilai tradisi dan sejarah. Salah satu keunikan alat musik tersebut terletak pada penggunaan bahan tradisional dalam proses pembuatannya, termasuk kulit jantung kerbau.

Persoalannya, keberadaan Rabab Galuk kini semakin langka. Karena itu, menurut Yota, pelestarian tidak cukup hanya melalui kegiatan pertunjukan atau dokumentasi, tetapi juga harus menyentuh keberlanjutan pengetahuan dan keterampilan pembuatannya.

Ia mendorong adanya langkah konkret untuk mempertahankan tradisi pembuatan alat musik tersebut. Pemerintah Kota Pariaman, kata dia, juga akan mengupayakan dukungan anggaran untuk pembinaan secara rutin.

Langkah itu penting agar pengetahuan mengenai Rabab Galuk tidak berhenti pada generasi yang saat ini masih menguasai tradisi tersebut.

Selain memberikan perhatian terhadap Rabab Galuk, Yota mengungkapkan rencana Pemkot Pariaman mengalokasikan anggaran pembangunan Gedung Creative Hub.

Fasilitas tersebut dirancang menjadi pusat aktivitas sekaligus ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan kreativitas. Bidang yang dapat dikembangkan antara lain seni pertunjukan, perfilman, seni budaya, dan berbagai kegiatan ekonomi kreatif.

Yota juga meminta jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) yang hadir dalam kegiatan tersebut ikut memberikan gagasan dan dukungan terhadap komunitas-komunitas kreatif di Kota Pariaman.

Menurut dia, perkembangan teknologi digital seharusnya tidak membuat generasi muda semakin jauh dari budaya lokal. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk mengemas dan memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Film dokumenter Rabab Galuk diharapkan tidak berhenti sebagai karya audiovisual. Dokumentasi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan budaya Pariaman kepada publik sekaligus memperkuat sektor pariwisata.

Yota berharap eksplorasi terhadap budaya lokal terus dilakukan sehingga kekayaan tradisi Pariaman mampu menarik perhatian wisatawan dari luar daerah, bahkan mancanegara.

“Kita berharap kekayaan budaya yang dimiliki dapat terus dieksplorasi hingga mampu menarik perhatian wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara,” ujarnya.

Ia menilai keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar kebudayaan lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman. Komunitas seni dan kreatif dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi pelaku sekaligus penggerak pelestarian budaya.

Pembukaan kegiatan ditandai dengan pemukulan clapperboard oleh Yota Balad sebagai tanda resmi dimulainya pemutaran Special Premier film dokumenter Rabab Galuk.

Pemutaran film tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa ketika sebuah tradisi mulai langka, dokumentasi dan kreativitas generasi muda dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga agar warisan budaya tidak sekadar tersimpan dalam ingatan, tetapi tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (SS)