Palu, majalahfakta.id — Program SMK Global di Sulawesi Tengah diarahkan untuk menyiapkan calon pekerja migran Indonesia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja sebelum menjalani proses penempatan ke luar negeri.
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Tengah Mustaqim, S.Sos., M.Si., CS, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Republik Indonesia kepada Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia untuk memperluas penempatan pekerja migran melalui jalur pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi.
“500.000 ribu target dari Pak Presiden sampai 2029. Sebanyak 300.000 berasal dari SMK dan 200.000 dari Masyarakat Umum.” kata Mustaqim.
Menurut dia, meskipun menggunakan branding SMK Global, program tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi lulusan SMK. Masyarakat umum juga dapat mengikuti program sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Khusus Sulawesi Tengah, pada 2026 terdapat alokasi 11 paket program. Setiap paket terdiri atas 20 peserta sehingga total mencapai 220 peserta. Program tersebut memiliki total anggaran sekitar Rp4,1 miliar.
Pelaksanaan program dilakukan BP3MI Sulawesi Tengah dengan melibatkan Bursa Kerja Khusus (BKK) di sejumlah SMK. Kerja sama tersebut dilakukan untuk menelusuri alumni sekaligus menjaring calon peserta yang sesuai dengan kebutuhan program.
Karena keterbatasan fasilitas pelatihan, BP3MI juga bekerja sama dengan lembaga vokasi sebagai penyelenggara pelatihan. Lembaga vokasi tersebut harus melalui mekanisme pendaftaran dan verifikasi sebelum ditetapkan sebagai penyelenggara.
Mustaqim menjelaskan proses verifikasi dilakukan melalui platform e-vokasi milik Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. Tahapannya meliputi pemeriksaan administrasi kelembagaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia.
Setelah dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi, lembaga vokasi menjalani verifikasi lapangan untuk memastikan kesiapan dan kompetensinya dalam melaksanakan pelatihan.
“Penentuan ini memang didasarkan pada kompetensi masing-masing lembaga terkait dengan peserta,” ujar Mustaqim.
Jenis pelatihan yang diberikan juga disesuaikan dengan kompetensi masing-masing SMK. SMK yang memiliki bidang perhotelan diarahkan pada pelatihan housekeeping serta layanan makanan dan minuman.
Sementara SMK dengan kompetensi manufaktur mendapatkan pelatihan pengelasan atau welder. Peserta dari bidang kesehatan diarahkan pada pelatihan yang berkaitan dengan layanan pendampingan lansia.
Adapun peserta dari SMK yang memiliki kompetensi kelautan mendapatkan pelatihan anak buah kapal (ABK).
Menurut Mustaqim, mekanisme perekrutan peserta diawali dengan pengumuman terbuka. Masyarakat yang memenuhi persyaratan dapat mendaftarkan diri untuk mengikuti program tersebut.
BP3MI Sulawesi Tengah juga menggandeng BKK di tingkat provinsi serta kabupaten dan kota dalam proses penjaringan calon peserta.
Program SMK Global tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan calon pekerja migran melalui pelatihan yang disesuaikan dengan kompetensi peserta dan kebutuhan pekerjaan, sehingga mereka memiliki bekal sebelum menjalani proses penempatan ke luar negeri. (Mad)






