FAKTA – Pagi itu langit kampus Universitas Muhammadiyah Malang cerah. Di depan tugu huruf raksasa “UMM”, sekelompok siswa berseragam putih abu-abu lengkap dengan dasi dan name tag berkumpul. Di tangan mereka terbentang spanduk: Kunjungan Belajar Smk Negeri 2 Batu Jurusan Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian.
Selasa, 28 Juli 2026. Hari itu bukan hari sekolah biasa. Bagi siswa Jurusan Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian SMK Negeri 2 Batu, ini adalah hari untuk melihat lebih jauh: sejauh mana ilmu yang mereka pelajari di sekolah bisa dibawa ke dunia kampus dan industri.
Langkah Pertama: Membuka Wawasan di Edupark FPP UMM
Destinasi pertama bukan ruang kelas, melainkan Edupark Fakultas Pertanian Peternakan UMM. Begitu masuk, yang terasa bukan bau laboratorium, tapi aroma tanah basah, sayur hidroponik, dan rumah kaca yang rapi.
Di sinilah siswa diajak “turun ke lapangan” versi kampus. Mereka mengenal inovasi pertanian modern: mulai dari sistem irigasi tetes, budidaya tanaman dalam greenhouse, sampai pengolahan hasil pertanian yang berbasis konsep edupark. Konsepnya sederhana — belajar sambil melihat, berkarya sambil mencoba.
“Selama ini kita belajar pengolahan hasil pertanian di ruang praktik sekolah. Di sini kita lihat bagaimana riset dan teknologi kampus dikembangkan jadi model pertanian yang bisa diterapkan masyarakat,” kata salah satu guru pendamping.
Siswa berkeliling berkelompok. Ada yang sibuk memotret alat pengering tenaga surya. Ada yang bertanya ke pemandu tentang cara mengemas produk pertanian agar punya nilai jual lebih tinggi. Tujuannya satu: membuka mata bahwa pertanian hari ini bukan lagi soal cangkul dan sawah saja.
Langkah Kedua: Masuk ke Dunia Analisis di Laboratorium Teknologi Pangan
Setelah Edupark, rombongan bergeser ke gedung Jurusan Teknologi Pangan UMM. Suasananya berubah. Lebih steril, lebih teknis. Di Laboratorium Teknologi Pangan UMM, para siswa mengenakan jas lab putih.
Di meja-meja praktikum terbentang alat-alat analisis: gelas ukur, tabung reaksi, timbangan digital, dan alat uji mutu pangan. Di papan tertulis: Teknologi Pangan UMM.
Di sinilah siswa belajar mengamati proses dan analisis yang biasanya hanya ada di buku paket. Mereka melihat bagaimana sebuah produk pangan diuji kadar airnya, bagaimana bakteri diuji, bagaimana mutu dan keamanan pangan dijaga sebelum sampai ke konsumen.
“Ini baru 10% dari yang ada di industri besar. Tapi dari sini kalian bisa bayangkan, kalau mau kuliah Teknologi Pangan, kalian akan belajar sampai sedetail ini,” jelas pemandu lab.
Bagi siswa SMK, momen ini penting. Jurusan mereka di SMK Negeri 2 Batu fokus pada pengolahan hasil pertanian. Sementara di UMM, ilmunya dikembangkan lebih dalam: dari sisi riset, inovasi produk, hingga standar industri. Jembatannya terasa nyata.
Mengapa Harus ke Kampus?
Kegiatan ini bukan tanpa alasan. Tujuan utama Kunjungan Belajar yang diusung SMK Negeri 2 Batu adalah meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan motivasi siswa dalam dunia pendidikan tinggi dan teknologi pangan.
Dunia kerja dan industri pangan sekarang menuntut lulusan yang tidak hanya terampil praktik, tapi juga paham sains, inovasi, dan standar mutu. Lewat kunjungan ini, siswa diajak bermimpi: setelah lulus SMK, bisa lanjut kuliah, bisa jadi technopreneur produk olahan, bisa jadi peneliti pangan.
“Dari sekolah kita mengukir prestasi, untuk menyongsong masa depan,” begitu pesan yang tertulis di pamflet kegiatan. Dan pesan itu terasa saat para siswa berfoto bersama di akhir acara. Wajah mereka sumringah, sebagian mengacungkan jempol, sebagian membawa catatan penuh.
Jembatan Vokasi dan Akademik
Kolaborasi antara SMK Negeri 2 Batu dan UMM ini menarik. Di satu sisi ada SMK dengan kekuatan praktik dan link and match dengan dunia kerja. Di sisi lain ada UMM dengan kekuatan riset dan pengembangan ilmu.
Jurusan Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian dan Jurusan Teknologi Pangan pada dasarnya berbicara bahasa yang sama: bagaimana membuat hasil pertanian Indonesia tidak hanya dijual mentah, tapi diolah, diberi nilai tambah, dan punya daya saing.
Empat nilai yang digaungkan UMM dan SMK juga sama: Berilmu, Berwawasan, Berkarakter, Berprestasi. Dan hari itu, keempatnya dipraktikkan langsung.
Catatan Penutup
Perjalanan pulang ke Batu siang itu mungkin terasa lebih panjang. Tapi yang dibawa pulang siswa jauh lebih banyak dari sekadar foto.
Mereka pulang dengan gambaran kampus. Pulang dengan ide produk baru. Pulang dengan pertanyaan: “Kalau aku kuliah di sini, bisa bikin apa ya?”
Mungkin 2-3 tahun lagi, sebagian dari mereka akan kembali ke UMM. Bukan sebagai tamu kunjungan, tapi sebagai mahasiswa. Membawa inovasi dari laboratorium, lalu mewujudkannya di desa, di UMKM, di industri.
Karena masa depan pertanian Indonesia memang harus dimulai dari sini: dari sekolah vokasi yang berani keluar kelas, dan dari kampus yang membuka pintunya. Belajar. Berkarya. Berinovasi. (Mud)






