FAKTA – Pianis muda Indonesia Michael Anthony Kwok mencatat pengalaman penting dalam perjalanan musiknya setelah mengikuti program intensif di Paris, Prancis, pada 14–20 Juni 2026. Peraih Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025 itu mendapat kesempatan belajar bersama sejumlah profesor musik klasik sekaligus tampil dalam festival musik di Prancis.
Program tersebut merupakan bagian dari kerja sama jangka panjang Ananda Sukarlan Center (ASC), Kedutaan Besar Prancis, dan Institut Français d’Indonésie (IFI) dalam membuka akses bagi musisi muda Indonesia ke ekosistem musik klasik internasional. Michael juga mendapat kesempatan tampil dalam Festival Fièvres Musicales di Paris pada 17 dan 18 Juni 2026. Michael berbagi pengalaman perjalanannya selama di Perancis saat wawancara di IFI Thamrin, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Direktur IFI, Jules Irrmann, menilai kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Prancis memiliki peran penting dalam mempererat hubungan kedua negara. Menurutnya, musik merupakan bahasa universal yang dapat mendekatkan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Musik bukan hanya musik pop. Sangat penting bagi kami untuk melayani semua aspek musik, termasuk musik klasik,” ujarnya.
Jules juga mengapresiasi kolaborasi dengan Ananda Sukarlan Center dan kesempatan membawa karya musisi Indonesia ke Prancis. Ia berharap hubungan yang telah terbangun tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi berkembang menjadi kerja sama jangka panjang. “Yang terbaik adalah berhasil menciptakan pertemanan yang kuat, bukan hanya memiliki seorang artis Prancis yang datang ke Indonesia dan melakukan pertunjukan, kemudian mereka pergi. Sekarang kita memiliki pertemanan dan kerja sama jangka panjang,” katanya.
Sementara itu, Ananda Sukarlan mengatakan perjalanan Michael ke Paris menjadi pengalaman yang saling menguntungkan bagi dunia musik Indonesia dan Prancis. Selain mempelajari repertoar komponis Prancis, Michael juga memperkenalkan karya Indonesia melalui Rapsodia Nusantara No. 44, karya yang dibuat Ananda khusus setelah Michael meraih Ananda Sukarlan Award.
“Tujuannya dia ke Prancis bukan hanya belajar, tetapi mereka juga belajar tentang musik Indonesia,” ujar Ananda.
Ananda menambahkan, Michael memiliki kemampuan istimewa karena mampu memainkan musik dengan mengandalkan pendengaran. Ia tidak menggunakan braille untuk membaca notasi balok, melainkan mendengarkan musik, kemudian mereproduksi dan membentuk interpretasinya sendiri.
“Michael adalah talenta istimewa. Dia mendengar, kemudian mereproduksi dan mencerna interpretasinya sendiri sehingga memiliki identitas terhadap musik yang dia dengar,” tutur Ananda.
Selama di Paris, Michael belajar bersama tiga profesor dengan sesi latihan yang berlangsung sekitar dua jam atau lebih. Ia kemudian membawakan karya komponis Prancis serta karya Ananda Sukarlan dalam sebuah festival. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi para musisi Prancis untuk mengenal lebih jauh repertoar Indonesia dan mempelajari pendekatan dalam bekerja bersama pianis dengan kebutuhan khusus.
Michael sendiri mengaku sangat menikmati pengalaman tersebut. Ketika ditanya mengenai konsernya di Prancis. Perjalanan selama 16 hari itu menjadi pengalaman pertamanya belajar piano di luar negeri sekaligus membuka ruang baru bagi Michael untuk terus mengembangkan kemampuan dan kecintaannya terhadap musik.
“Kalau ditanya mau belajar lagi atau tidak, pasti dia mau. Karena passion-nya memang di situ,” ungkap Michael
Kerja sama Indonesia-Prancis melalui musik tersebut diharapkan terus berlanjut dan memberi ruang lebih luas bagi talenta muda. Bagi Michael, perjalanan ke Paris bukan sekadar kesempatan tampil di panggung internasional, melainkan juga menjadi jembatan pertukaran budaya yang mempertemukan musik Indonesia dan Prancis sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya di dunia musik. (Dina)






