FAKTA – 100% Manusia Film Festival resmi membuka penyelenggaraan edisi ke-10 bertajuk “A Decade of Love Language” pada Kamis (6/8). Mengusung semangat merayakan keberagaman, cinta, dan kemanusiaan, festival yang berlangsung hingga 15 Agustus 2026 ini menghadirkan 86 film dari 21 negara di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta secara gratis.
Malam pembukaan festival ditandai dengan penayangan 100% Love Language, kompilasi enam film pendek Indonesia berdurasi 75 menit yang mengangkat beragam makna cinta dalam kehidupan sehari-hari. Film-film tersebut berasal dari berbagai daerah, yakni Waktu Luang (Tangerang), Folding Sadness (Medan), Malam Sepanjang Nafas (Kupang), BAGUS: Dancing Like a Lady (Magetan), Parade si Rambo (Jakarta), dan Selamat Tidur, Adil! (Sidoarjo).
Acting Director Erasmus Huis, Stijn Kuijkers, mengatakan pihaknya bangga kembali mendukung penyelenggaraan festival yang telah menjadi ruang penting bagi perfilman bertema hak asasi manusia di Indonesia.
“Kami percaya pada kekuatan film. Film memberi kita kemampuan untuk memahami perjuangan, tantangan, serta menginspirasi kita membicarakan isu-isu penting seperti kebenaran, kebebasan, dan demokrasi. Festival ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk bertemu, berdialog, dan saling memahami,” ujar Stijn dalam sambutannya.
Aktris Hannah Al Rashid, yang didapuk sebagai duta festival tahun ini, menilai perjalanan 10 tahun 100% Manusia Film Festival merupakan pencapaian yang patut diapresiasi.
“Sepuluh tahun bukan pencapaian yang kecil. Selama satu dekade, 100% Manusia Film Festival berhasil membangun kepercayaan bersama komunitas dan penontonnya. Itu sesuatu yang layak dirayakan,” kata Hannah.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan festival bukan hanya untuk menikmati film, tetapi juga memperluas jejaring dengan sineas dan pecinta film dari berbagai daerah maupun negara.
Selain pemutaran film, festival tahun ini menghadirkan program Cinema Without Borders, hasil kolaborasi dengan Movies That Matter, yang mempertemukan 14 penyelenggara festival film dari Asia Tenggara. Program ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan festival, keamanan, pemrograman film, komunikasi, hingga strategi membangun dampak sosial melalui perfilman.
Meninaputri Wismurti, Kepala Program Film di 100% Manusia Film Festival menyebut penyelenggaraan edisi ke-10 menjadi tonggak baru bagi festival yang selama ini konsisten mengangkat isu hak asasi manusia melalui medium film.
“Festival ini tidak mungkin bertahan selama 10 tahun tanpa dukungan semua pihak. Kami berharap masyarakat menikmati seluruh rangkaian festival tahun ini,” ujar Menina.
Mengusung tema A Decade of Love Language, malam pembukaan melalui film 100% Love Language menghadirkan berbagai tafsir tentang cinta, mulai dari kehangatan keluarga, pergulatan batin, hingga keberanian mencintai di tengah situasi yang sulit. Kompilasi tersebut menjadi pembuka perjalanan festival yang selama satu dekade terus menghadirkan ruang dialog mengenai keberagaman, kemanusiaan, dan hak asasi manusia melalui sinema. (Dina)






