Daerah  

Jembatan Darurat Batang Anai Kembali Difungsikan, Mobilitas Ribuan Warga Padang Pariaman Mulai Pulih

Jembatan darurat Batang Anai kembali difungsikan. (Foto : SS/majalahfakta.id)

FAKTA – Mobilitas masyarakat di Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, mulai kembali normal setelah pemerintah daerah memfungsikan kembali jembatan darurat yang melintasi Sungai Batang Anai. Pembukaan akses ini dilakukan lebih cepat dari perkiraan semula setelah proses normalisasi sungai berhasil diselesaikan dalam waktu singkat.

Jembatan darurat tersebut menjadi penghubung utama bagi ribuan warga yang terdampak terputusnya akses akibat kerusakan infrastruktur. Keberadaannya dinilai sangat penting untuk menjaga aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik sambil menunggu pembangunan jembatan permanen oleh pemerintah pusat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Padang Pariaman, El Abdes Marsyam, mengatakan percepatan pembukaan akses merupakan hasil koordinasi intensif antara Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman dengan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Provinsi Sumatera Barat.

Semula, jembatan diperkirakan baru dapat difungsikan dalam waktu tiga hari setelah pekerjaan normalisasi Sungai Batang Anai selesai. Namun, berkat percepatan pekerjaan di lapangan, akses tersebut sudah dapat digunakan masyarakat hanya dalam dua hari.

“Percepatan ini dilakukan agar aktivitas masyarakat, khususnya pelajar, pekerja, dan pengguna kendaraan roda dua, dapat kembali berjalan normal tanpa harus menunggu lebih lama,” kata El Abdes, Kamis (16/7/2026).

Menurut dia, percepatan pemulihan akses menjadi prioritas pemerintah daerah karena jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi transportasi masyarakat di kawasan Anduriang dan sekitarnya. Selama akses terputus, warga harus mencari jalur alternatif yang membutuhkan waktu tempuh lebih panjang dan biaya transportasi yang lebih besar.

Meski telah dibuka, jembatan masih berstatus sebagai akses darurat. Pemerintah akan terus melakukan penyempurnaan konstruksi, termasuk pemasangan pagar pengaman di sisi kiri dan kanan jembatan guna meningkatkan keselamatan pengguna.

Untuk sementara, jembatan hanya dapat dilalui pejalan kaki, kendaraan roda dua, serta kendaraan roda tiga seperti becak. Kendaraan roda empat belum diperkenankan melintas karena konstruksi sementara belum dirancang menahan beban kendaraan yang lebih berat.

Pemerintah juga meminta masyarakat tetap berhati-hati saat menggunakan jembatan. Jalur tersebut diketahui melayani lebih dari dua ribu kendaraan setiap hari sehingga pengaturan lalu lintas dan aspek keselamatan menjadi perhatian utama selama masa transisi.

” Setiap hari jalur tersebut sangat sibuk dilalaui kendraan, untuk itu warga diminta harus waspada saat melintas,” ujar dia.

Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) telah menyiapkan pembangunan jembatan permanen sebagai solusi jangka panjang. Infrastruktur baru itu dirancang memiliki panjang sekitar 140 meter yang terbagi dalam dua bentang masing-masing sepanjang 70 meter, dengan lebar enam meter dan menggunakan konstruksi rangka baja.

” Pembangunan jembatan permanen diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp45,2 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Proyek tersebut ditargetkan mulai dikerjakan pada 2026,” sebut dia.

Keberadaan jembatan permanen nantinya diharapkan tidak hanya menggantikan fungsi jembatan darurat, tetapi juga meningkatkan kapasitas jaringan transportasi di kawasan Batang Anai. Infrastruktur itu diproyeksikan melayani lebih dari 40 ribu penduduk yang selama ini bergantung pada jalur penghubung tersebut untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, pertanian, hingga pelayanan kesehatan.

Bagi Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana bukan sekadar membangun kembali akses yang rusak, tetapi juga memastikan roda kehidupan masyarakat tetap bergerak. Kolaborasi antara pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan pemerintah pusat dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan infrastruktur strategis di daerah.

Dengan kembali berfungsinya jembatan darurat, beban mobilitas masyarakat mulai berkurang. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pembangunan jembatan permanen dapat direalisasikan sesuai jadwal sehingga kawasan Anduriang memiliki infrastruktur yang lebih aman, tangguh, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. (SS)