FAKTA – Nagari Anduring, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat, yang barangkali terlalu sabar untuk marah, waktu berjalan seperti air sungai keruh, deras, dan kadang menyeret siapa saja yang terlalu percaya bahwa hidup akan baik-baik saja tanpa jembatan.
Afrizal Yatim, 70 tahun, bukan pahlawan. Ia hanya seorang lelaki tua yang menjual telur asin, komoditas sederhana yang tak pernah masuk rapat kabinet, apalagi jadi bahan pidato. Namun sore itu, ia menjadi tokoh utama dalam sebuah tragedi kecil yang terlalu sering terjadi untuk disebut kebetulan, tapi masih diperbaiki untuk disebut masalah serius.
Ia menyeberangi Sungai Lubuk Aur yang meluap. Bukan karena ia gemar menantang maut, melainkan karena maut itu sendiri telah menjadi bagian dari rutinitas warga, jembatan yang putus sejak November 2025 belum juga kembali.
Sudah diperingatkan, kata saksi. Tapi peringatan di negeri ini seringkali seperti spanduk imbauan besar, jelas, dan sama sekali tidak mengubah kenyataan. Ketika pilihan hanya dua, memutar setengah jam atau menyeberang dengan risiko tenggelam, maka yang dipilih bukanlah yang paling aman, melainkan yang paling mungkin.
Afrizal memilih menyeberang. Negara memilih diam.
Ia terseret arus sejauh 100 meter. Tubuhnya membentur batu-batu sungai, seperti kebijakan publik yang selalu terbentur realitas. Beruntung, seorang pemuda bernama Kadri Maiwansyah melompat ke sungai. Di negeri yang kekurangan jembatan, keberanian individu sering menjadi infrastruktur darurat.
Kadri tidak menunggu instruksi. Ia tidak perlu rapat koordinasi. Ia tidak mengajukan proposal. Ia hanya melihat seseorang hampir mati, lalu bertindak, sebuah prosedur yang tampaknya terlalu sederhana untuk birokrasi kita.
Dan tentu saja, seperti semua cerita yang berakhir tanpa kematian, pemerintah pun datang, tidak untuk mencegah, tetapi untuk meresmikan keterlambatan. Bupati datang meninjau. Rombongan lengkap. Pernyataan tegas. Instruksi cepat. “Besok mulai pembangunan jembatan,” katanya.
Jembatan darurat akan dibangun, katanya. Sementara jembatan permanen masih dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi. Di atas kertas, semuanya tampak bergerak. Di lapangan, warga masih menyeberang dengan tali, seperti sedang berlatih menjadi akrobat tanpa penonton.
Lucunya, kejadian ini bukan yang pertama. Tapi baru kali ini viral. Seolah-olah keselamatan warga harus menunggu algoritma sebelum dianggap penting. Ironisnya, sesuatu baru dianggap darurat ketika sudah hampir menjadi jenazah.
Dan seperti biasa, solusi datang dalam bentuk simbolik, sebuah telepon seluler untuk sang penyelamat. Hadiah yang layak, tentu saja. Namun ironis, di tempat di mana sinyal kemanusiaan lebih kuat daripada sinyal pembangunan, ponsel mungkin hanya akan digunakan untuk merekam tragedi berikutnya. Yang hilang di sini bukan hanya jembatan. Yang ikut hanyut adalah rasa urgensi, logika prioritas, dan mungkin sedikit rasa malu.
Sebab jika seorang kakek harus mempertaruhkan nyawanya hanya untuk pulang setelah berjualan telur asin, maka yang sebenarnya tenggelam bukanlah dia, melainkan kita semua, pelan-pelan, dalam arus kelalaian yang terus mengalir tanpa pernah dibendung. Dan ketika jembatan itu akhirnya dibangun nanti, entah kapan, kita mungkin akan meresmikannya dengan gunting pita dan tepuk tangan. Sementara sungai tetap mengalir, diam-diam menunggu siapa lagi yang akan jatuh berikutnya. (ss)






