Pariaman, majalahfakta.id – Sebanyak 100 anak terdampak bencana di Kota Pariaman, Sumatera Barat, mendapat ruang untuk mengekspresikan pengalaman, harapan, dan imajinasi mereka melalui kegiatan melukis bersama.
Program bertajuk “Melukis Bersama Asosiasi dan Anak-Anak Terdampak Bencana” itu digelar Pemerintah Kota Pariaman berkolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemen Ekraf) RI di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Pariaman, beberapa hari lalu.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut dibuka Wali Kota Pariaman Yota Balad. Selain menjadi wadah pengembangan kreativitas, program itu dirancang sebagai bagian dari pemulihan psikososial atau trauma healing bagi anak-anak yang terdampak bencana.
Yota mengatakan bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat meninggalkan luka, kehilangan, dan pengalaman yang membekas bagi anak-anak.
Karena itu, menurut dia, anak-anak perlu diberikan ruang yang aman untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan tanpa tekanan.
“Bencana memang dapat meninggalkan luka, kehilangan, dan pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Namun kita percaya bahwa setiap anak memiliki kekuatan untuk bangkit,” kata Yota.
Ia menilai kegiatan melukis tidak sekadar menghasilkan karya seni. Kanvas menjadi media bagi anak-anak untuk menuangkan perasaan, harapan, imajinasi, hingga cita-cita mereka.
“Hari ini, kita tidak hanya mengajak anak-anak untuk melukis di atas kanvas, tetapi memberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan, harapan, imajinasi, dan cita-cita mereka melalui karya seni,” ujarnya.
Menurut Yota, gambar sederhana yang dibuat seorang anak dapat menyimpan cerita besar tentang kehidupannya. Karena itu, seni memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan keindahan visual.
Seni, kata dia, dapat menjadi media pemulihan psikologis, sarana edukasi, sekaligus membantu membentuk karakter anak agar lebih kreatif dan percaya diri.
Yota pun mendorong para peserta untuk tidak takut menuangkan gagasan dalam karya mereka.
“Bermainlah, berkaryalah, dan jangan takut bermimpi. Tuangkan semua yang kalian rasakan dan bayangkan ke dalam lukisan. Tidak ada lukisan yang salah,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi titik awal lahirnya talenta-talenta baru dari Kota Pariaman dan Sumatera Barat.
“Siapa tahu dari tangan anak-anak yang kita dampingi hari ini, kelak lahir seniman besar, desainer, pelukis, atau animator yang mengharumkan nama Kota Pariaman dan Sumatera Barat,” ujarnya.
Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemen Ekraf), Dadam Mahdar, mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi amanat Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026 mengenai percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurut Dadam, program tersebut dirancang dengan pendekatan seni sebagai ruang ekspresi sekaligus instrumen pemulihan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.
“Program yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh 100 anak sebagai peserta melukis,” kata Dadam.
Para peserta merupakan siswa SD kelas 4 hingga 6 dari 42 sekolah negeri dan swasta yang tersebar di empat kecamatan di Kota Pariaman, yakni Pariaman Utara, Pariaman Tengah, Pariaman Selatan, dan Pariaman Timur.
Tidak hanya melukis di atas kanvas, peserta juga mendapatkan workshop mengenai media dan teknik melukis. Mereka kemudian diajak membuat karya pada media batok kelapa.
Pemanfaatan batok kelapa dipilih bukan sekadar sebagai variasi media seni. Menurut Dadam, penggunaan bahan lokal tersebut sekaligus memperkenalkan nilai keberlanjutan dan kearifan lokal kepada anak-anak.
Program ini juga melibatkan sejumlah mentor dari Tambo Art, akademisi Universitas Negeri Padang (UNP), seniman lokal Pariaman, alumni SERUIN atau Akselerasi Seni Rupa Indonesia, serta pegiat seni rupa Sumatera Barat.
Sejumlah seniman dan pegiat seni yang terlibat antara lain Ferdian Ondira, Yon Indra, Yosrianto, Hagung Kuntjara SW, dan Citra Leonita.
Selain proses kreatif, kegiatan ditutup dengan pameran karya peserta sebagai bentuk apresiasi terhadap hasil kreativitas anak-anak.
Dadam mengatakan dari seluruh karya yang dihasilkan, sebanyak 10 karya terbaik akan diseleksi untuk dipromosikan ke panggung nasional.
“Kita juga melaksanakan pameran karya sebagai bentuk apresiasi, di mana 10 karya terbaik akan diseleksi untuk dipromosikan ke panggung nasional,” ujarnya.
Ia berharap seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan serius, tetapi tetap menikmati proses berkarya dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pejabat Kemen Ekraf RI, di antaranya Kepala TU, Perencanaan dan Keuangan Direktorat Seni Rupa dan Pertunjukan Maman Rahmawan, Program Director Kin Space SCBD Aprina Murwanti, serta psikolog anak Rifdha Wahyuni.
Melalui kegiatan tersebut, pemulihan pascabencana tidak hanya diarahkan pada pembangunan kembali infrastruktur. Anak-anak sebagai kelompok yang membutuhkan perhatian khusus juga diberi ruang untuk memulihkan diri melalui pendekatan kreatif.
Dari kanvas dan batok kelapa, anak-anak Pariaman didorong mengubah pengalaman menjadi ekspresi, luka menjadi karya, dan imajinasi menjadi harapan untuk masa depan. (SS)






