Malang, majalahfakta.id – Dunia di kepala jingga, sebuah kumpulan cerita pendek. Membacanya seperti membuka album lama, menyimpan cerita dari masa lalu yang relate dengan kejadian masa kini.
Buku berisi 15 cerita pendek merangkum berbagai peristiwa dalam negeri. Dari trauma tragedi 1998, wabah flu burung pada 2005, alih fungsi lahan hutan kota Alambau menjadi perumahan elit, sampai kasus pembunuhan di Pasar Besar pada 2019, turut hadir pada lembar-lembar buku tersebut.
Penulis asal Malang Elwiq Pr, menyebut buku tersebut sangat menarik dan bisa dikategorikan dalam genre ekologi feminim. Sebab dalam beberapa cerita menyampaikan tentang perjuangan perempuan untuk kemanusiaan dan kerusakan lingkungan yang terjadi.
“Seperti dalam cerpen Kupu Gajah, Senja, Bangau dan lainnya mengisahkan tentang kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang membuat punahnya kupu bersayap besar, karena habit nya hilang. Begitu pula dengan hutan kota yang beralih fungsi dari daerah menyerap air menjadi perumahan. Menariknya, semuanya itu bukan fiksi. Jejaknya bisa dicari di internet,” katanya saat diskusi kecil beberapa waktu lalu.

Ia juga menyampaikan, buku terbitan Baranda ini bukan hanya fiksi. Tapi kisahnya nyata yang tertunda dan menjadi cerita pendek menarik untuk dibaca. Sebagai bentuk keresahan, protes dan kepedulian penulis pada apa yang terjadi di sekitarnya.
Buku tersebut secara tidak langsung menjadi catatan perjalanan Kota Malang dahulu dan kini. Dari hutan kota yang didirikan pemerintah Belanda sampai peristiwa pembunuhan di Pasar Besar yang menggemparkan korbannya seorang tunawisma dan pelakunya seorang bernama S, mungkin saat ini masih dipenjara atau sudah bebas. Yang pasti kisahnya cukup mengerikan.
Sedang dosen Unisma, Ari Ambarwati menyampaikan, bahwa sastra anak dan sastra untuk orang dewasa hampir tidak memiliki sekat. Seringkali sastra anak tidak ditulis anak-anak tapi orang dewasa. Dan orang dewasa yang menulis cerita anak, merasa lebih aman dalam menyampaikan protes atau ide-ide lain dibalik tokoh anak. Seperti tokoh Jingga yang terperosok di akar pohon dan melakukan perjalanan pada dunia binatang. Meski pertemuan itu hanya mimpi, namun tetap ada pesan moral yang ingin disampaikan.
“Apa iya sastra anak hanya dibaca anak-anak, kan, tidak. Justru orang dewasa juga membaca sastra anak, ada kerinduan, ada kemungkinan untuk membaca ulang cerita yang relate dimasa lalu, entah itu tragedi atau hal lain yang ditemui masa sekarang. Apakah buku ini menjawab pertanyaan itu silahkan dibaca.” katanya saat di jumpai dirumahnya akhir pekan lalu.
Menurut penulis buku Dunia di Kepala Jingga, Titik Qomariyah, antologi cerpen tersebut kumpulan cerita pendek yang ditulis sejak 2003. Tersebar di sejumlah media dari Jawa Pos, Surabaya News, Surabaya Post, Radar Malang, Malang Post dan masih banyak lagi.
Adapun tema yang diangkat, selain tentang lingkungan, perempuan, kemanusiaan dan sosial yang dekat dengan kehidupan setiap hari. Karena latar belakang penulis yang jurnalis, hampir semua cerita yang ditulis adalah peristiwa yang pernah terjadi pada masanya. Dan jejak kejadiannya bisa dilacak pada mesin pencari google.
Dengan terbitnya buku tersebut diharapkan memperkaya literasi dalam membaca peristiwa melalui buku. Sekaligus merayakan hari kunjungan perpustakaan yang jatuh pada 14 September. Melalui lembar cerita dalam Dunia di Kepala Jingga kita diajak menelusuri lorong waktu, yang pernah kita alami atau belum pernah didengar sama sekali oleh Gen Z. Sebagai bacaan untuk memperkaya literasi. (rr)






