FAKTA — Malam di Gedung Fatmawati DPC PDIP Ngawi, Jumat (29/5/2026), tak sekadar menjadi ruang pertunjukan. Ia berubah menjadi panggung ekspresi, ruang refleksi, sekaligus titik temu semangat generasi muda dalam merayakan seni. Teater Mahnit Ngawi kembali membuktikan eksistensinya melalui pementasan ke-173 yang berlangsung khidmat, tertib, dan penuh antusiasme.
Sejak berdiri pada 20 Agustus 1993 di Kelurahan Ketanggi, Teater Mahnit telah menempuh perjalanan panjang selama 34 tahun. Konsistensi mereka bukan hanya soal bertahan, tetapi juga tentang menjaga nyala kreativitas di tengah perubahan zaman. Dari panggung ke panggung di berbagai wilayah Pulau Jawa, Mahnit terus menegaskan diri sebagai salah satu penjaga denyut seni pertunjukan daerah.
Ketua panitia sekaligus sutradara, Kuspriyanto Namma, menegaskan bahwa teater bukan sekadar hiburan, melainkan ruang pembentukan karakter.
“Ini bukan hanya soal pentas. Ini tentang bagaimana generasi muda punya ruang untuk tumbuh, berekspresi, dan menjauh dari hal-hal negatif seperti judi online dan narkoba,” ujarnya.
Pementasan ini dibuka oleh Wakil Bupati Ngawi, Dwi Riyanto Jatmiko, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi Teater Mahnit dalam merawat budaya lokal.
“Kegiatan ini bukan hanya hiburan, tetapi juga edukasi. Teater menjadi media komunikasi yang sarat nilai moral dan filosofi kehidupan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan pelajar—baik dari SMA, SMK, maupun Madrasah Aliyah—dalam kegiatan seni sebagai wadah penyaluran bakat dan pembentukan karakter.
Menariknya, ia turut menyinggung jejak sejarah, ketika Soekarno memanfaatkan teater sebagai alat perjuangan saat berada di Ende. Sebuah pengingat bahwa panggung bukan hanya tempat bercerita, tetapi juga ruang membangun kesadaran dan pergerakan.
Antusiasme penonton, yang didominasi anak muda, menjadi bukti bahwa teater belum kehilangan relevansinya. Justru di tengah gempuran era digital, panggung seperti ini menjadi oase tempat nilai, kreativitas, dan kebersamaan kembali menemukan maknanya.
Pentas ke-173 ini bukan sekadar angka. Ia adalah simbol konsistensi, dedikasi, dan harapan bahwa seni akan terus hidup—melalui tangan-tangan muda yang berani berkarya dan bermimpi.
Teater Mahnit tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menyalakan masa depan.
(Zamhari)






