FAKTA – Musim tanam tembakau tahun 2026 di Kabupaten Bondowoso resmi dimulai lewat kegiatan Gelar Tanam Tembakau. Acara ini dirangkai dengan sarasehan dan seremoni tanam raya yang dihadiri petani, pelaku usaha, dan organisasi pertembakauan.
Mengusung tema “Menanam Harapan, Mengawal Kedaulatan Tembakau di Tengah Badai Regulasi”, momen ini menjadi langkah awal petani menghadapi musim baru di tengah tantangan cuaca dan rencana aturan yang dikhawatirkan mengancam keberlangsungan tembakau lokal, (21/5/2026).
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menegaskan tembakau adalah komoditas strategis dan penopang utama ekonomi warga. “Bagi Bondowoso, tembakau adalah urat nadi ekonomi sekaligus warisan budaya yang menghidupi ribuan keluarga,” ujarnya.
Data tahun 2024 mencatat luas lahan tembakau mencapai 8.424,40 hektare dengan sekitar 5.000 petani bergantung pada sektor ini. Varietas unggulan Maesan I dan Maesan II bahkan telah dikenal luas di tingkat industri nasional.
Di sisi lain, kekhawatiran membayangi para petani akibat sejumlah rancangan regulasi, terutama pembatasan kadar nikotin dan tar. Ketua APTI Bondowoso, M. Yasid, menyebut aturan ini berisiko mematikan sektor pertembakauan.
“Kami khawatir aturan ini akan menghilangkan keberadaan bibit unggul kami yang memiliki kadar 4–6 persen. Ditambah wacana kemasan polos dan larangan bahan tambahan, ini sama saja ancaman bagi penghidupan kami,” tegas Yasid.
Ia menilai jika regulasi itu diberlakukan, hasil panen berpotensi tidak terserap industri karena tak memenuhi standar. Dampaknya akan langsung terasa pada kesejahteraan petani dan perekonomian daerah.
Melalui sarasehan, petani mengeluarkan deklarasi penolakan atas rancangan aturan tersebut. Mereka juga menuntut keterlibatan langsung dalam penyusunan kebijakan pertembakauan. “Jangan sahkan peraturan tanpa mendengar aspirasi kami,” bunyi poin deklarasi.
Selain soal regulasi, petani juga meminta dukungan akses pupuk berkualitas, teknologi pertanian, serta sarana prasarana yang memadai guna menjaga produktivitas.
Pemerintah daerah turut menyalurkan bantuan pangan dan alat tani seperti cangkul, sabit, dan caping kepada 200 buruh tani, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai wujud dukungan nyata.
Bupati berharap musim tanam 2026 mampu mendorong pemulihan ekonomi dan menjaga eksistensi tembakau Bondowoso. Seremoni ini menandai dimulainya masa tanam dengan harapan hasil panen tahun ini lebih baik, di tengah beragam tantangan yang ada. (Abd Gafur)






