FAKTA — Badan Karantina Indonesia mendorong percepatan ekspor durian asal Sulawesi Tengah (Sulteng) agar mampu menembus pasar Tiongkok yang bernilai miliaran dolar Amerika Serikat per tahun.
Langkah itu ditandai dengan kunjungan Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean, ke fasilitas pengolahan PT Duco Food Indonesia di Kelurahan Baiya, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu, Rabu (15/4/2026), dalam rangka memastikan kesiapan ekspor langsung ke negeri tersebut.
“Sulteng menjadi daerah dengan jumlah ekspor durian terbanyak dibandingkan wilayah lain di Indonesia,” kata Sahat.
Ia menyebutkan, target ekspor durian Sulteng pada 2026 mencapai Rp750 miliar dengan volume 8.100 ton. Hingga 12 April 2026, realisasi ekspor telah menembus Rp377,5 miliar atau setara 4.077 ton.
Pemerintah juga menjadwalkan pelepasan ekspor lanjutan pada 16 April 2026 dengan nilai Rp42,5 miliar dan volume 459 ton.
Menurut Sahat, tingginya permintaan durian di Tiongkok yang mencapai sekitar USD 8 miliar per tahun menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pangsa pasar global.
“Indonesia optimistis mampu merebut 5 hingga 10 persen pangsa pasar, dengan potensi devisa mencapai Rp6,4 triliun hingga Rp12,8 triliun per tahun,” ujarnya.
Dari sisi produksi, Sulteng memiliki sekitar 3,7 juta pohon durian, dengan 1,2 juta di antaranya sudah produktif. Total potensi produksi mencapai 95.140 ton per tahun, tersebar di berbagai kabupaten dan kota, dengan sentra utama di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.
Selain itu, skema ekspor langsung dinilai mampu meningkatkan efisiensi logistik. Waktu pengiriman yang sebelumnya mencapai 56 hari kini dapat dipangkas menjadi 22 hingga 26 hari, sementara biaya logistik berkurang hingga dua kali lipat.
Tak hanya mempercepat distribusi, harga jual durian Indonesia di pasar Tiongkok juga disebut lebih tinggi dibandingkan produk dari Thailand, dengan selisih mencapai 10 hingga 20 persen per grade.
“Kami berharap peningkatan ekspor ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani durian,” kata Sahat.
Dorongan ekspor ini sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Tengah sebagai salah satu lumbung durian nasional yang mulai agresif menembus pasar internasional. (Mad)






