FAKTA – Jarum jam baru menyentuh pukul 22.00 WIB, namun di ujung Dukuh Jetak RT 13 RW 03, Desa Dukuhsembung, Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal suara kentongan sudah terdengar. Satu kali, jeda. Dua kali, jeda. Itu bukan isyarat bahaya. Ia adalah panggilan yang akrab, ronda malam akan segera dimulai.
Di gardu sederhana berukuran 2×4 meter, beberapa warga mulai berdatangan. Ada yang masih mengenakan sarung, ada yang sudah bersepatu karena baru pulang lembur. Sementara di masing-masing rumah sudah tersedia gelas plastik yang diisi uang recehan, disitulah cerita lain bermula jimpitan.
Ronda dan jimpitan di Jetak merupakan aktifitas baru untuk membangun kebersamaan dan gotong royong serta menjaga keamanan kampung. Tapi malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, praktik kecil ini kembali menegaskan satu hal: bahwa keamanan dan kebersamaan di kampung tidak menunggu instruksi dari atas. Ia tumbuh dari kesadaran paling bawah.
Menjaga Malam Tanpa Paksaan
“Prinsipnya kesadaran masing-masing,” kata Lukmanul Hakim, Ketua RT 13, sambil menuang kopi ke gelas plastik. “Kami tidak pernah memaksa warga harus hadir ronda. Kalau dipaksa, malah jadi beban. Tapi kalau sudah sadar, dia datang sendiri.”
Kalimat Lukmanul bukan basa-basi. Dari sekitar 100 kepala keluarga di RT 13, rata-rata 8 sampai 10 orang hadir setiap malam. Jadwalnya yang ronda , fleksibel tinggal kesadaran dan kepedulian warga. Ada yang ronda berprofesi tukang batu, ada yang buruh pabrik, ada pedagang juga ada yang PNS dan guru. Jika malam itu ada yang lembur atau sedang tidak enak badan, yang lain memaklumi. “Yang penting gardu tidak kosong. Kampung harus ada yang melek,” ujar Hendrik, 45 tahun, warga yang malam itu jaga.
Rondanya pun tidak melulu soal keliling kampung membawa pentungan. Kadang mereka bukan hanya duduk dan keliling kampung, berbagi cerita tentang, tentang agama, tentang usaha dan sedikit membahas kebijakan pemerintah juga tentang rencana membahas jalan setapak yang rusak. Kentongan dipukul setiap satu jam, sekadar penanda bahwa Jetak masih terjaga.
Kaleng Jimpitan: Recehan yang Menyatukan
Yang membedakan ronda di Jetak adalah mengambil sumbangan sukarela warga yang ditaruh dalam gelas plastik yang digantung di pagar rumah masing-masing.
“Namanya juga bantuan sukarela,” jelas Lukmanul. “Jimpitan itu dari kata jumput, ambil sedikit. Dulu beras sejumput tiap rumah. Sekarang karena zaman sudah beda, ya uang receh.”
Meski receh, hasilnya nyata. Uang itu tidak untuk kas RT semata. Ia punya dua tujuan: pertama, untuk kebutuhan warga yang mendesak. Membeli lampu jalan yang mati atau sekadar membeli kopi dan gula agar yang ronda tidak mengantuk. Kedua, dan ini yang paling dinanti, sebagai tabungan untuk perayaan HUT RI.
“Agustus itu hajat besar kampung,” kata Hadi, 51 tahun, warga tangga yang malam itu mengantar gorengan untuk yang ronda. “Dari jimpitan itulah kami bisa beli bendera, cat gapura, hadiah lomba anak-anak. Jadi pas 17-an, semua senang karena merasa ikut punya.”
Keamanan yang Lahir dari Kepercayaan
Dukuh Jetak bukan wilayah rawan. Angka kriminalitas di Desa Dukuhsembung relatif rendah. Namun bagi warga, ronda bukan sekadar mencegah maling. Ia adalah ruang untuk merawat kepercayaan. Ketika satu rumah ditinggal ke luar kota menengok anak, tetangga yang ronda tahu harus lebih sering melintas. Ketika ada orang asing bertamu malam-malam, ada yang menyapa dan bertanya dengan santun.
“Rasa aman itu tidak bisa dibeli,” ucap Lukmanul pelan. “Ia tumbuh karena kami saling kenal, saling peduli. Jimpitan itu kecil, tapi maknanya besar: bahwa kami masih mau urunan untuk kepentingan bersama.”
Menjelang tengah malam, kopi di gelas sudah habis. Satu per satu warga pamit. Uang hasil jimpitan diserahkan bendahara, disimpan di lemari gardu. Besok malam, ia akan dibuka lagi. Recehan demi recehan akan kembali masuk, tanpa paksaan dan hasilnya tercatat di bendahara.
Hadi yang tiap malam rajin ronda menyampaikan, dibanyak tempat, tradisi ronda mulai luntur, digantikan CCTV dan satpam. Di Jetak, ia justru bertahan. Bukan karena warganya takut, tetapi karena mereka paham: kampung yang aman adalah kampung yang warganya mau melek, bukan hanya matanya, tetapi juga hatinya,
Dan dari sebuah gardu kecil di RT 13, Jetak sedang membuktikan bahwa ketahanan sosial tidak selalu lahir dari program besar. Kadang, ia cukup dimulai dari kentongan, secangkir kopi, dan kaleng bekas biskuit yang mengajarkan arti berbagi. (sus)






