Dampak Sering Cuti Bersama Etos Kerja dan Layanan Publik Menurun

FAKTA – Beberapa tahun akhir-akhir ini sampai ditahun 2024 nyaris setiap bulan ada libur tambahan atau cuti bersama baik sudah tertera dalam kalender aturan pusat maupun melaui Surat Edaran (SE), karena itulah terkadang menjadi keluhan diantara konsumen Indonesia dan sebagian juga tentang sistem serta tata cara pelayanan untuk publik. Pemberlakuan secara nasional hal cuti bersama juga berdampak hambatan dalam pelayanan.

“Saya heran Indonesia saat ini cuti bersama jumlahnya luar biasa baik cuti tambahan hari besar nasional ataupun cuti hari besar keagamaan, misal Hari Raya Idul Fitri jumlah hari cuti seharusnya cukup 7 hari, melampui jadi 10 hari, selain itu libur tahun baru, Hari besar lainnya Waisyak, Natal ada tambahan libur atau cuti bersama, dulu seperti Natal dan tahun baru bila sudah ada libur, ya, sudah masuk kerja, terutama untuk aparatur pemerintah, dan yang terakhir Hari Raya Idul Adha, hari H jatuh pada hari senin dan libur, seharusnya tidak perlu ditambah cuti dihari selasa, toh, minggu para pekerja pemerintah ataupun BUMN sudah istirahat, hendaknya hari efektif jangan dikurangi karena cuti bersama,” terang Aji Santoso, Pemerhati Pelayanan Konsumen.

“Catatan tahun 2024 ini saja kerap cuti bersama justru yang sering mengurangi hari efektif, libur yang sering ditambah dan menjadi cuti bersama pada gilirannya merugikan pelayanan. Sebagai gambaran aparatur pemerintah diberi cuti misal jatuh tanggal merah pada Hari Rabu atau Kamis? Justru ditambah 1 hari, dua hari bahkan lebih, ini akan berdampak kinerja pegawai pemerintah, toh, tunjangan naik tapi kerja dikurangi etos kerja berkurang,” tambahnya.

Memang akhir-akhir ini banyak nitizen dan sebagian masyarakat terdampak keluhkan seringnya cuti bersama, sebagai contoh lagi tanggal merah jatuh di hari Rabu, sebaiknya tidak diteruskan cuti sampai hari Kamis dan Jumat, karena hari efektif untuk pelayanan umum, dicontohkan lagi tanggal merah jatuh hari Jumat, tentu saja Sabtu-Minggu otomatis libur, hal itu tak perlu ditambah hari senin untuk libur, dan masih banyak contoh lainnya. Hal-hal karena cuti bersama kerap ada, yang terdampak kinerja dalam pelayanan publik seperti pelayanan catatan sipil karena banyak dibutuhkan mesti membludak setelah cuti, pelayanan pajak, rumah sakit dalam antrian administrasi meskipun dokter atau perawat stanby tetap saja secara administrasi terhambat, kantor perpajakan dan pelayanan umum lainnya, itu mengurangi pelayanan yang bermutu.

Menyoal polimik tentang sering ada cuti bersama atau tambahan libur baik yang sudah ada dalam kalender atau surat edaran menurut salah seorang staf kesehatan dan tata usaha (TU) Dinas Kesehatan mengatakan bahwa cuti bersama itu dari pusat tentunya juga berlaku di Kabupaten Ngawi, menurutnya itu sesuai pertimbangan dan tidak merugikan dalam pelayanan yang dilakukan oleh aparatur pemerintah, 21 Juni 2024.

“Semua itu sudah melalui mekanisme yang terukur dari agenda pusat untuk tambahan libur atau cuti bersama, dan cuti tersebut sesuai pertimbangan pemerintah tidak mengurangi kualitas dalam pelayanan publik,” kata Endang, Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Kesehatan. (Rif)