Arjuno-Welirang Membara, Pemprov Jatim Siaga Banjir Bandang: 261 Titik Panas, 482 Hektare Ludes

Rakor Karhutla Jatim di Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Jumat (23/10/2026). Gubernur Khofifah, Kepala BNPB, Kasad, Pangdam, dan Kapolda Jatim bahas penanganan 1.090 hektare kebakaran di Arjuno-Welirang dan antisipasi banjir bandang. (Foto: Mud/majalahfakta.id)

Pemprov, BNPB Hingga Kasad Turun ke Batu, Antisipasi Transisi Karhutla ke Hidrometeorologi

Kota Batu, majalahfakta.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur memburuk. Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat memperkuat koordinasi lintas instansi untuk penanganan di kawasan Gunung Arjuno-Welirang sekaligus mengantisipasi ancaman banjir bandang di musim hujan 2026/2027.

Komitmen itu ditegaskan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Karhutla Jawa Timur yang digelar di Rupatama Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Jumat (23/10/2026).

Rakor krusial ini dihadiri langsung Kepala BNPB RI Letjen TNI Kristomei Sianturi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal  TNI Tandyo Budi Revita, Sekdaprov Jatim Adhy Karyono, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Piek Budyakto, Kapolda Jatim Irjen Pol Dekananto Eko Purwono, dan Wali Kota Batu Nurochman.

Fakta Lapangan: 4.345 Titik Panas Sepekan

Data BNPB per 23 Oktober 2026 pukul 06.25 WIB mencengangkan. Di Jawa Timur tercatat 261 titik panas aktif dengan luas area terbakar 482 hektare, dan 223 hektare di antaranya masih belum padam.

Hanya dalam sepekan, periode 16-23 Oktober, satelit mendeteksi 4.345 titik panas yang menyebar di berbagai wilayah Jatim.

Titik terparah ada di kompleks Arjuno-Welirang. Selama 16-23 Oktober, luas kebakaran mencapai 1.090 hektare, dengan 16 hektare masih membara. Di Kota Batu sendiri, 25 hektare lahan terbakar, 16 hektare masih dalam proses pemadaman. Dini hari tadi, 11 titik panas baru kembali muncul di Kecamatan Bumiaji.

“Jangan ada lagi pembakaran. Karhutla ini sudah ganggu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga. Penanganan butuh gotong royong pusat, daerah, TNI, Polri, swasta, dan masyarakat,” tegas Kepala BNPB Kristomei Sianturi.

Jatim Darurat Kekeringan dan Karhutla

Sekdaprov Jatim Adhy Karyono membeberkan, sepanjang 2026, kekeringan melanda 29 kabupaten/kota. Karhutla terjadi di 26 kabupaten/kota dengan 184 kejadian dan total lahan terdampak tembus 11.449 hektare.

Lima gunung besar terdampak: Bromo, Arjuno, Semeru, Butak, dan Ijen.

Penanganan dilakukan dengan berbagai cara: Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pemadaman manual, drone waterspray, hingga water bombing. BNPB juga akan menginventarisir kebutuhan daerah untuk dukungan pusat. TNI AD siap mengerahkan bantuan, termasuk water tank.

Ancaman Berikutnya: Banjir Bandang

Usai karhutla, ancaman hidrometeorologi mengintai. BMKG memaparkan, 5 dari 74 Zona Musim (ZOM) di Jatim akan masuk musim hujan November 2026, dan melonjak menjadi 68 ZOM pada Desember 2026.

Sebagai hulu DAS Brantas, Kota Batu diminta siaga penuh. Pemantauan sungai dan bendungan, pembersihan alur sungai dan drainase, kesiapan pompa, hingga koordinasi dengan BBWS Brantas dan BPBD harus diperkuat.

Sistem peringatan dini, jalur evakuasi, dan titik kumpul di kawasan rawan juga wajib dipastikan.

Wali Kota Batu Nurochman menyatakan kesiapannya.

“Terima kasih atas kepercayaan Batu2 sebagai tuan rumah. Kami siap tindak lanjuti arahan pusat dan provinsi dengan2 penguatan koordinasi bersama BPBD, Perhutani, TNBTS, TNI, dan semua unsur,” ujarnya. (Mud/F.1015)