Badung Juara Umum UDG ke-33, Ketimpangan Anggaran Kebudayaan Antar Daerah Jadi Catatan

Koster berikan penghargaan pada peserta Badung yang raih juara umum saat penutupan Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-33. (Foto : Fa)

Denpasar, majalahfakta.id — Pelaksanaan Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-33 Tingkat Provinsi Bali Tahun 2026 resmi ditutup oleh Gubernur Bali Wayan Koster di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Rabu (16/9/2026). Di balik kemenangan Kabupaten Badung sebagai Juara Umum, perhelatan seni dan sastra keagamaan Hindu bertema Dharmagita Atmanam Dharma dengan menyabet 21 Juara I, 11 Juara II, dan 3 Juara III, ini menyisakan persoalan mendasar terkait ketimpangan anggaran antar daerah serta efektivitas pembinaan peserta menuju UDG Tingkat Nasional 2027 di Sulawesi Tengah.

Ketimpangan dukungan fiskal kabupaten dan kota di Bali menjadi sorotan utama dalam ajang yang mempertandingkan 11 bidang lomba dengan 37 kategori ini. Sebelumnya, Anggota Tim Kurator UDG ke-33, Prof. Dr. I Made Surada, M.A., menguraikan bahwa Kabupaten Badung menjadi satu-satunya daerah yang mampu mengirimkan kontingen secara lengkap untuk seluruh cabang perlombaan, bahkan telah menggelar seleksi berjenjang sejak tingkat kecamatan. Sebaliknya, keterbatasan anggaran membuat daerah seperti Kabupaten Bangli dan Buleleng hanya sanggup mengirimkan peserta untuk tiga hingga empat bidang lomba saja.

Kondisi tersebut menjelaskan keterkaitan erat antara kapasitas pendanaan daerah dengan keberhasilan Badung yang keluar sebagai Juara Umum setelah memboyong 21 Juara I, 11 Juara II, dan 3 Juara III. Tanpa pemerataan dukungan anggaran dari pemerintah daerah di luar Badung, ajang seleksi ini belum berjalan serempak dan optimal untuk menjaring seluruh potensi bakat di Pulau Dewata.

Dalam acara penutupan, Gubernur Koster menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta, khususnya generasi muda yang tampil rapi berbusana adat serta mahir berbahasa Bali tanpa mengabaikan penguasaan bahasa nasional dan asing. Koster menegaskan bahwa pelestarian kebudayaan dalam visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali sangat bergantung pada keberlanjutan krama Bali sebagai pelaku utama ritual.

Pada kesempatan tersebut, Koster juga kembali menyoroti ancaman demografi Bali, terutama penurunan populasi pemilik nama berdasarkan urutan kelahiran seperti Nyoman dan Ketut. Imbauan untuk merawat identitas budaya dan menjaga keberlanjutan regenerasi krama Bali dinilai penting agar generasi muda tidak terseret arus modernisasi dan kehilangan jati diri.

Sebagai ajang seleksi daerah menuju UDG Tingkat Nasional 2027, Bali dihadapkan pada persaingan ketat dari 38 provinsi di Indonesia. Provinsi pesaing seperti Lampung, Jayapura, dan Sulawesi Tengah dilaporkan telah melakukan persiapan matang dengan sokongan penuh anggaran daerah masing-masing. Kurator menekankan perlunya pembinaan ulang yang intensif bagi para pemenang Bali, termasuk mengonversi materi dharmawacana bahasa Bali ke dalam bahasa Indonesia serta pemantapan dharmawacana bahasa Inggris untuk kebutuhan tingkat nasional.

Gubernur Koster merespons penyelenggaraan tahun ini dengan berjanji akan meningkatkan nilai hadiah pemenang serta memperbarui desain piala menggunakan produk lokal Bali pada ajang berikutnya. Namun, janji peningkatan apresiasi finansial tersebut dinilai perlu ditopang oleh regulasi dan skema pendanaan yang merata di seluruh kabupaten dan kota se-Bali. Tanpa adanya kesetaraan anggaran daerah dan sistem pembinaan pascalomba yang berkelanjutan, keterwakilan duta terbaik Bali di kancah nasional berisiko terhambat oleh masalah klasik pembiayaan. (fa)