Purbaya Tersengat Danantara?

Subakti Sidik. (Foto : Dokumen Pribadi)

Oleh : Subakti Sidik, Wartawan Senior

Mungkin kalo yang dicopot itu Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri HAM Natalius Pigai atau Kapolri Jenderal Listiyo Sigit Prabowo. Pasti orang tak begitu  terkejut.

Sebab, mereka memang telah lama digunjingkan akan diresuffle. Tapi apa yang terjadi ? Yang dicopot, justru Purbaya. Ya, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa. Heeh….?

Tak ada angin, tak ada hujan. “Si Koboi” nyentrik  ini tiba – tiba saja dilengserkan. Maka, Si Pur, pun benar – benar harus “lengser keprabon”.

Siapa sangka, menteri yang sangat dekat dengan Presiden Prabowo, tiba – tiba justru malah terkena K.O. Puja – puji yang mengalir deras dari masyarakat pun sontak terhenti. Ada apa ?

Penggantinya adalah Prof Suahasil Nazara. Ini bukan orang lain. Dia adalah “ordal” alias orang dalam. Selama ini Suahasil menduduki jabatan Wakil Menteri Keuangan.

Memang Purbaya sempat diisukan akan menggantikan Gubernur BI Perry Parjiyo yang mundur beberapa waktu lalu. Namun setelah ditetapkan  penggantinya, Destry Damayanti isu itu lenyap seketika.

Orang lantas terkaget – kaget setelah ada pengumuman Purbaya dicopot dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan. Alamak….!!!. Dahsyat ini.

Dia yang saat itu sedang melakukan rapat dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), langsung meninggalkan tempat, setelah ada telepon dari istana.

Melalui Keppres No.97/P- tahun 2026, Purbaya diberhentikan Presiden Prabowo Subianto. Ketika menerima telepon, dia tampak sedikit tegang. Lalu meluncurlah ke istana.

Banyak yang heran. Kenapa Menteri yang sangat populer dan banyak disukai masyarakat justru diberhentikan secara tiba-tiba.. Masih ingatkan gebrakan – gebrakan Purbaya yang sering menggemparkan ?

Gebrakan pertama: memindahkan uang nganggur Rp 200 triliun yang parkir di BI. Uang itu digelontorkan pada bank – bank Himbara (Bank Mandiri, BRI,BTN, BNI dan BSI).

Tujuannya,  memperbanyak kredit produktif ke rakyat dan dunia usaha. Dengan begitu sektor riil melaju. Hingga September 2026 sudah tersalur Rp 112,4 triliun. Mulia amat niatnya Bro.

Redenominasi Rupiah

Gebrakan berikutnya: dia akan melakukan “Redenominasi Rupiah”. Yakni penyerdehanaan nilai mata uang rupiah. Dengan cara menghapus tiga angka nol di belakang. Jadi misal Rp 1.000. Jadi Rp 1. Program yang masih pro- kontra, diargetkan, selesai 2027.

Selanjutnya menambah transfer ke daerah sebesar Rp 43 triliun. Anggaran TKD sebesar Rp 650 triliun jadi Rp 693 triliun.

Apa tujuannya? Agar daerah tidak menaikkan pajak secara ekstrem. Sehingga memberatkan rakyat. Siapa yang tak mendukung program begini ?

Yang belum lama direalisasi adalah meluncurkan obligasi negara khusus: “Patriot Bond” dan “Merah Putih Bond”. Meski Yield rendah (2%) tetapi obligasi ini banyak diminati investor. Kenapa yield rendah kok diminati ?. Karena ada dugaan, dana yang diinvestasikan itu bermasalah. Karenanya investornya tak diumumkan siapa saja mereka itu.

Namun agaknya tak semua gebrakan Sang Koboi  memperoleh sambutan baik dari Bos. Taruhlah tentang utang Whoosh pada Bank Cina  yang membengkak Rp 120 triliun.Terjadi perdebatan sengit di masyarakat. Gaduhlah medsos.

Purbaya berpendapat, itu urusan Danantara. Namun ujung- ujungnya diputuskan, tanggungjawab dialihkan ke Kemenkeu.  Semakin berat tugas Bendahara negara.

Cicilan yang semula 40 tahun, diperpanjang menjadi dua kali lipat. Yakni 80 tahun. Aduh…berat Bro. Sampe cucu kita cicilan itu.

Soal Makan Bergizi Gratis (MBG) pun Purbaya pernah mengancam akan menarik dana MBG jika sampai Oktober 2025 tidak terserap optimal. Masyarakatpun bersorak: “Horeee….”. Kendati begitu, tak terdengar kelanjutannya, setelah diprotes Ketua DEN Luhut Binsar Panjaitan.

Puncak dari spekulasi, sebab dicopotnya Purbaya diduga keras: sengketa tentang laba BUMN.

Laba sebesar Rp 145 triliun diminta Purbaya Rp 120 triliun masuk ke APBN untuk mengurangi defisit.

Tapi Danantara keberatan. Dana sebesar itu akan dipakai Danantara untuk investasi, menumbuhkembangkan BUMN. Sehingga menimbulkan pro-kontra lagi. Gaduh lagi.

Bisa jadi, karena seringnya menyebabkan terjadinya  kegaduhan. Baik di masyarakat. Ataupun di antara kementerian.

Sosok ceplas – ceplos namun pintar,  dan pemberani. Ternyata tak diminati. Jadi ingat Susi Pudjiastuti. Itu Menteri Perikanan yang populer era Presiden Jokowi.

“Tenggelamkan….”. Begitu jargon populer, untuk kapal – kapal ilegal yang ketahuan mencuri ikan di perairan Indonesia. Ia pun mengalami hal sama dengan Purbaya. Masuk kotak. *