Langkah Kecil Yang Terhenti

Alghaisan, 5 tahun, warga Sisir Kota Batu. Setelah 3 tahun kemoterapi, kanker darahnya kambuh. Kini ia dan orang tuanya harus mengulang perjuangan dari awal lagi.

FAKTA – Kota Batu, 14 Juli 2026 – Dulu, sore di Jalan Kelud Kelurahan Sisir selalu ramai oleh suara tawa. Ada satu bocah yang larinya paling kencang. Namanya Alghaisan Abyan Aditiya. Usianya 5 tahun.

Tapi sejak 3 tahun terakhir, suara itu pelan. Langkah kecilnya terhenti.

Memar Biru yang Mengubah Segalanya

Awalnya hanya memar. Biru di perut dan kaki, tanpa sebab yang jelas. Nila Novita Sari (29) mengira anak pertamanya itu hanya jatuh saat bermain. Wajar, anak laki-laki.

Tapi seminggu kemudian, muncul bercak merah di bawah mata Alghaisan. Mirip bercak darah. Belum sempat lega, demam tinggi datang. Naik turun selama 7 hari. Tubuh kecil itu melemah.

Rujukan ke Rumah Sakit Daerah membawa kabar yang merobek hati kedua orang tuanya. Dokter memvonis Alghaisan mengidap Leukemia Risiko Tinggi. Kanker darah.

Sejak hari itu, dunia mereka berubah. Alghaisan bahkan sempat tidak bisa berjalan selama sebulan. Senyum cerianya yang dulu selalu menyambut tamu, berganti wajah murung dan lelah.

17 Kali Kemoterapi dan Motor yang Dijual

Perjuangan dimulai. Hampir 3 tahun, Alghaisan bolak-balik rumah sakit. Ia harus menjalani kemoterapi seminggu sekali. Total sudah 17 kali.

Tubuh mungil itu sempat drop. Pernah sebulan penuh dirawat di ruang Perawatan Khusus Anak atau HCU. Dokter dan keluarga bertaruh nyawa untuk mempertahankannya.

Beban ekonomi juga ikut menghantam. Febri Aditiya (29), ayah Alghaisan, bekerja sebagai petugas keamanan. Gajinya Rp2.800.000 per bulan. Dari uang itu harus untuk makan, biaya adik Alghaisan yang masih 3 tahun, dan ongkos ke rumah sakit tiap minggu.

Karena tidak sanggup, satu-satunya sepeda motor dijual. Utang ke sana kemari menumpuk. Transportasi ke RS rujukan jadi tantangan tersendiri bagi keluarga yang kini menumpang di rumah orang tua.

Tapi mereka bertahan. Karena ada harapan. Pengobatan hampir selesai. Dokter bilang tinggal sedikit lagi.

Relapse: Badai Kedua

Lalu badai datang lagi.

Demam tinggi kembali menyerang Alghaisan. Hasil lab memastikan hal paling mereka takutkan: kankernya kambuh. Relapse.

“Rasanya seperti runtuh,” kata Bu Nila, menahan tangis. “Kami kira sudah selesai. Ternyata harus mulai lagi dari nol.”

Artinya, 3 tahun perjuangan, 17 kali kemoterapi, air mata dan utang itu harus diulang. Seluruh protokol pengobatan dimulai lagi dari awal.

Kesulitan makin menjadi. Saat Pak Febri mencoba meminjam dana ke bank untuk biaya pengobatan, pengajuannya ditolak. Alasannya klasik: tidak punya aset jaminan. Motor sudah dijual. Tidak ada lagi yang bisa digadaikan.

Kini, dengan gaji yang sama, Pak Febri harus membagi untuk dua anak. Satu butuh makan dan sekolah. Satu lagi butuh biaya pengobatan yang tidak sedikit.

Tanpa bantuan, kemoterapi Alghaisan terancam berhenti di tengah jalan.

Menunggu Hari untuk Berlari Lagi

Di kamar sederhananya, Alghaisan sering diam. Menatap keluar jendela. Jarang bertanya. Mungkin ia juga lelah.

Yang diminta orang tuanya sangat sederhana. Bukan rumah baru. Bukan mobil.

“Kami hanya ingin anak kami sembuh,” ujar Pak Febri pelan. “Ingin lihat dia jalan tegak lagi. Lari lagi di halaman seperti dulu. Bisa sekolah, bisa main sama teman-temannya.”

Bu Nila mengangguk. Baginya, melihat Alghaisan tertawa lepas sudah cukup.

Leukemia memang kejam. Ia bisa merenggut tenaga, rambut, dan masa kecil seorang anak. Tapi ia tidak bisa merenggut harapan.

Hari ini Alghaisan masih berjuang. Masih ada jarum infus yang harus ditahan. Masih ada obat yang harus diminum. Masih ada hari-hari panjang di rumah sakit.

Dan ia masih menunggu. Menunggu hari ketika sepatu kecilnya bisa dipakai lagi. Menunggu hari ketika langkah kecil itu tidak lagi terhenti.

Ulurkan Tangan untuk Alghaisan

Bantuan untuk pengobatan Alghaisan dapat disalurkan melalui keluarga di Jl. Kelud RT 02 RW 11, Kel. Sisir, Kota Batu.
Kontak: 0859 7545 6631 – Nila Novita Sari.
Setiap bantuan Anda adalah harapan baru bagi bocah Kota Batu ini untuk kembali berlari.

(F1015/mud)