Ekbis  

Transaksi BBTF 2026 Turun 800 M, Chairman Ungkap Rencana Perpindahan Pasar

Chairman BBTF 2026 I Putu Winastra saat menerima tamu. (foto: fa/majalahfakta.id)

FAKTA – Di balik klaim kesuksesan panitia yang berhasil melampaui target jumlah buyer dan exhibitor dalam BBTF (Bali & Beyond Travel Fair) 2026, laporan penurunan justru terjadi. Nilai transaksi bisnis pariwisata tahun ini diproyeksikan merosot tajam alias ambrol hingga 12 persen dibandingkan capaian tahun lalu akibat dominasi pasar wisatawan short-haul atau jarak dekat yang memiliki daya belanja minim serta masa tinggal yang sangat singkat.

Ironisme data ini dibeberkan langsung oleh Chairman BBTF 2026 yang juga menjabat sebagai Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, di sela-sela pelaksanaan hari kedua pameran pada Jumat (29/5/2026). Winastra memaparkan bahwa dari segi kuantitas peserta, BBTF tahun ini sejatinya mencatatkan rekor dengan menghadirkan 286 exhibitor dari empat negara dan 12 provinsi di Indonesia, melampaui target awal yang hanya 250 peserta. Begitu pula dengan buyer internasional yang menembus 407 tour operator dari 44 negara.
“Karena memang exhibitor yang hadir melebihi target yang panitia harapkan. Dari 250 exhibitor, kita mencapai 286 exhibitor dari 4 negara dan 12 provinsi,” ungkap Winastra

Namun, rekor jumlah peserta itu seperti kehilangan taringnya ketika dihadapkan pada nilai uang yang berputar. Winastra mengakui, ketegangan geopolitik global yang membara memaksa panitia mengubah haluan dan bermain aman dengan membidik pasar Asia Tenggara (ASEAN) serta Asia Afrika, ketimbang mengejar wisatawan long-haul berkocek tebal dari Eropa dan Timur Tengah.
“Instead of kita mencari long-haul market, kita mencoba mencari yang short-haul. Oleh karenanya, tahun ini lebih banyak yang hadir adalah ASEAN dan Asia Afrika,” jelasnya.

Dampak dari keputusan darurat itu langsung memukul target finansial pariwisata Bali. Target transaksi BBTF 2026 yang semula dipatok tinggi terpaksa dipangkas dan hanya berani membidik angka Rp 6,8 triliun. Angka ini terjun bebas jika dibandingkan dengan realisasi transaksi tahun lalu yang sukses menembus Rp 7,6 triliun.
“Target sebenarnya tahun ini kita melebihi dari tahun lalu, tetapi ketika kita kalkulasi dari seluruh TO (tour operator) yang hadir, maka terjadi penurunan sekitar 12 persen dari tahun lalu. Jadi target tahun ini hanya 6,8 triliun, yang mana sebelumnya adalah 7,6 triliun. Jadi terjadi penurunan, itu memang karena market yang kami datangkan memang berbeda dari sebelumnya,” kata Winastra mengakuinya.

Ketua ASITA Bali itu tidak menampik bahwa karakter wisatawan jarak dekat ini menjadi biang kerok utama dari penurunan omset pariwisata berdarah-darah ini. Berbeda dengan turis Eropa yang berani berlibur hingga berminggu-minggu, pelancong dari kawasan ASEAN rata-rata hanya bertahan hitungan hari di Bali.
“Kalau yang short-haul ini memang dari sisi length of stay-nya berbeda. Jadi yang long-haul itu bisa sampai 2–3 minggu, sedangkan yang short-haul maksimum 1 minggu,” pungkas Winastra.

Realitas pahit di BBTF 2026 ini seolah menjadi alarm keras bagi masa depan pariwisata Bali bahwa kuantitas kedatangan turis yang membludak sama sekali tidak menjamin kemakmuran ekonomi daerah jika kualitas belanja mereka melorot drastis. (fa)