Trans Jatim Koridor 8 Pasuruan Raya Tertahan Anggaran, Kepala Dishub Provinsi Jatim Buka Suara

Operasional koridor baru yang dirancang melayani wilayah Pasuruan Raya sangat bergantung pada kemampuan keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun anggaran 2027 mendatang. (Foto : Dishub Prov Jatim/majalahfakta.id)

FAKTA – Riuh kebutuhan transportasi massal bagi para pekerja di kawasan industri Pasuruan Raya belum akan terjawab dalam waktu dekat.

Harapan hadirnya Bus Trans Jatim Koridor 8 yang sempat digaungkan sebagai solusi mobilitas buruh menuju kawasan industri Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), masih harus menunggu proses panjang di meja perencanaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Di balik padatnya arus kendaraan dan mobilitas ribuan pekerja setiap hari, Pemerintah Provinsi Jawa Timur ternyata masih berkutat pada tahap awal pematangan konsep koridor baru tersebut. Kajian teknis, studi kelayakan hingga kesiapan fiskal daerah menjadi pekerjaan rumah yang belum rampung.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Nyono, menegaskan bahwa realisasi Trans Jatim Koridor 8 hingga kini masih berada pada tahap studi dan penelitian.

“Untuk saat ini masih dalam tahap studi. Belum ada kepastian (Trans Jatim Koridor 8 beroperasi), kami mohon doanya agar prosesnya lancar,” ujar Nyono, Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, operasional koridor baru yang dirancang melayani wilayah Pasuruan Raya itu sangat bergantung pada kemampuan keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun anggaran 2027 mendatang. Di tengah berbagai kebutuhan pembangunan daerah, pembukaan koridor baru memerlukan dukungan anggaran yang tidak sedikit.

“Target pembukaan belum (dalam waktu dekat)] karena masih membutuhkan dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Semuanya tergantung pada kemampuan fiskal Pemprov,” jelasnya.

Hingga kini, kata Nyono, belum ada alokasi anggaran khusus yang disiapkan untuk merealisasikan Bus Trans Jatim Koridor 8. Padahal, keberadaan moda transportasi massal tersebut menjadi salah satu aspirasi yang mengemuka dalam peringatan Hari Buruh Internasional beberapa waktu lalu di Kantor Gubernur Jawa Timur.

“Untuk anggaran Bus Trans Jatim Koridor 8 belum ada,” tutupnya singkat.

Rencana pembukaan Koridor 8 sebelumnya disampaikan langsung Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2026 lalu. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan koridor tersebut dapat mulai disiapkan untuk kawasan Pasuruan Raya pada 2027.

Bagi para pekerja di kawasan industri PIER, keberadaan transportasi massal dinilai penting untuk memangkas biaya perjalanan sekaligus meningkatkan aksesibilitas menuju pusat-pusat industri. Selama ini, banyak pekerja masih mengandalkan kendaraan pribadi maupun angkutan konvensional yang terbatas.

“Pembukaan koridor baru akan disiapkan untuk Pasuruan Raya sehingga para buruh bisa memperoleh akses bagi yang bekerja di sekitar kawasan industri PIER. Semoga tahun depan bisa kita buka,” ungkap Khofifah.

Namun, di balik optimisme tersebut, proses menghadirkan satu koridor baru Trans Jatim bukan perkara sederhana. Pemerintah harus memastikan integrasi layanan berjalan matang agar tidak memunculkan persoalan baru di lapangan.

Khofifah menegaskan pembukaan koridor baru membutuhkan koordinasi lintas sektor, mulai dari penentuan titik halte, integrasi dengan angkutan lokal, hingga komunikasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan para pengemudi angkutan umum.

“Untuk membuka koridor tidak bisa bim salabim. Harus ada koordinasi dengan sopir angkot, titik pemberhentian, dan kepala daerah,” tegasnya.

Di tengah tingginya kebutuhan transportasi publik yang aman dan terjangkau di kawasan industri, masyarakat Pasuruan Raya kini masih harus menanti kepastian langkah Pemprov Jawa Timur. Sementara kajian terus berjalan, harapan akan hadirnya Trans Jatim Koridor 8 tetap menyala sebagai solusi mobilitas masa depan bagi ribuan pekerja di wilayah tapal kuda.