Kak Seto “Tampar” Dunia Pendidikan di Lumajang: Guru Sekarang Banyak Kehilangan Senyum!

Kak Seto saat berfoto bareng anak TK. (Foto : Fuad Afdlol/majalahfakta.id)

FAKTA – Dalam kegiatan Lumajang Excellence Education di Lumajang, Jumat-Sabtu (15-16/5/2026), Seto Mulyadi atau Kak Seto melontarkan kritik tajam terhadap kondisi dunia pendidikan saat ini.

Di hadapan sejumlah wartawan, tokoh nasional pemerhati anak itu menyinggung keras menurunnya kualitas pendidik dalam membangun hubungan emosional dengan siswa.

Menurutnya, banyak guru mulai kehilangan kesabaran, kehilangan empati, bahkan kehilangan senyum saat mendidik anak-anak di sekolah.

“Sekarang kualitas guru dalam mendidik anak menurut saya sangat menurun. Karena itu kami terus mendorong lahirnya guru sahabat anak,” tegas Kak Seto, kepada media ini.

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi, tuntutan administrasi sekolah, hingga beban hidup yang semakin berat, banyak pendidik dinilai mulai mudah terpancing emosi saat menghadapi siswa.

Namun Kak Seto mengingatkan, profesi guru bukan sekadar rutinitas kerja, melainkan amanah besar untuk membentuk masa depan bangsa.

“Kadang guru juga harus berjuang demi ekonomi keluarga. Tapi mohon tetap profesional dalam bekerja,” katanya lugas.

Sorotan paling tajam muncul ketika Kak Seto menyinggung pola pendidikan keras yang masih sering terjadi di lingkungan sekolah. Ia menegaskan pendidikan tidak boleh dibangun dengan ketakutan, intimidasi, apalagi kekerasan verbal maupun fisik.

“Mendidik dengan kekuatan hati, dengan kekuatan cinta. Mendidik bukan membidik, mengajar bukan menghajar,” ucapnya kembali.

Kalimat itu menjadi tamparan moral bagi dunia pendidikan. Sebab realitas di lapangan menunjukkan masih banyak siswa yang takut kepada guru, bukan hormat karena keteladanan.

Kak Seto menilai, guru ideal adalah mereka yang mampu menjadi tempat aman bagi anak untuk bertumbuh, bukan sosok yang justru menimbulkan trauma.

“Guru harus bisa memposisikan diri sebagai sahabat anak. Mendidik dengan senyuman, dengan kasih sayang demi kepentingan terbaik bagi anak, bukan sekadar ambisi,” paparnya lagi.

Kak Seto nantinya akan membongkar akar persoalan yang menurutnya paling sering memicu konflik antara guru dan siswa: emosi yang tidak terkendali.

Karena itu, dalam kegiatan Lumajang Excellence Education, dirinya secara khusus membagikan berbagai tips agar para guru mampu menjadi pendidik yang lebih humanis, sabar, dan ramah anak.

Salah satu pesan yang paling menyita perhatian peserta adalah cara menghadapi anak yang dianggap nakal. Alih-alih menghukum keras, Kak Seto justru mengajak guru mengedepankan pendekatan emosional yang sederhana namun bermakna.

“Kiat menghadapi anak nakal itu dengan senyum. Dalam bahasa saya disebut ‘mesem’. Dengan mesem, hati menjadi bersih dan jernih, pikiran jadi positif dan penuh rasa syukur,” ujarnya.

Pernyataan itu langsung memancing senyum dan tepuk tangan para peserta. Namun di balik candaan khas Kak Seto, tersimpan kritik serius bahwa pendidikan hari ini mulai kehilangan sentuhan kasih sayang.

Sebelumnya, Ketua Panitia Lumajang Excellence Education, Joseph Ananta menjelaskan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kualitas pendidikan di Kabupaten Lumajang.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kualitas guru agar pendidikan di Lumajang semakin maju dan ramah anak,” katanya.

Sementara itu, Patria Histiadi menegaskan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini tidak lagi sederhana. Guru dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman sekaligus memahami kondisi psikologis anak.

“Pendidikan hari ini membutuhkan guru yang tidak hanya cerdas mengajar, tetapi juga mampu memahami karakter anak,” jelasnya.

Senada dengan itu, Ketua TP PKK Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, mengingatkan para pendidik agar tidak menyerah menghadapi tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks.

“Guru itu mendidik, bukan membidik. Semua tantangan harus diubah menjadi peluang,” ungkap Dewi.

Kegiatan tersebut kini menjadi sorotan publik. Di tengah maraknya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, pesan keras Kak Seto dianggap sebagai alarm serius bagi dunia sekolah di Indonesia.

Sebab, sekolah seharusnya menjadi tempat anak bertumbuh dengan rasa aman, bukan ruang yang dipenuhi tekanan dan ketakutan. (Fuad Afdlol)