FAKTA – Book Launch and Panel Discussion Pancasila Market Economy digelar di Hotel Four Season oleh Konrad Adenauer Stiftung bersama Universitas Paramadina pada Senin (11/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi, ekonom, pejabat pemerintah, serta pelaku usaha untuk membahas arah pembangunan ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Dr. Denis Suarsana, Director of Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) menegaskan bahwa buku tersebut merupakan hasil perjalanan panjang kerja sama dengan Universitas Paramadina selama lebih dari satu dekade dalam membahas konsep ekonomi pasar sosial dan relevansinya terhadap ekonomi Pancasila.
“Kami menyadari ada hubungan yang sangat kuat antara prinsip ekonomi pasar sosial dengan prinsip politik dan ekonomi dalam Pancasila. Karena itu kami merasa terhormat dapat mendukung pembaruan konsep ekonomi Pancasila agar sesuai dengan tantangan pembangunan Indonesia saat ini,” ujarnya.
la juga menilai momentum peluncuran buku tersebut sangat tepat di tengah target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045.
“Indonesia membutuhkan sistem ekonomi yang mampu mendorong pertumbuhan, inovasi, dan investasi, tetapi tetap sesuai dengan karakter bangsa dan nilai-nilai Pancasila,” katanya.
Sementara itu, Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini mengatakan bahwa ekonomi Pancasila harus menempatkan pasar dan negara dalam posisi seimbang. Menurutnya, pasar merupakan bagian penting dari peradaban yang tidak dapat dihilangkan dalam sistem ekonomi modern.
“Pasar adalah keniscayaan. Kalau pasar tidak ada, ekonomi akan runtuh. Tetapi pada saat yang sama negara juga harus hadir agar tercipta keadilan dan pemerataan,” kata Didik dalam sambutannya.
la menilai implementasi ekonomi Pancasila masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait ketimpangan ekonomi antardaerah.
“Kita belum sepenuhnya mencapai prinsip persatuan dalam ekonomi. Masih ada kesenjangan yang besar antara daerah maju dan daerah tertinggal. Itu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kementerian UMKM yang diwakili oleh Dr. Ali ST, MSi selaku Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil menekankan pentingnya reformasi struktural yang berpihak kepada pelaku UMKM, koperasi, petani, nelayan, serta generasi muda.
“Reformasi struktural tidak boleh hanya menjadi istilah teknokratis. Reformasi harus menghadirkan ekonomi yang lebih inklusif, memperluas akses pembiayaan dan pasar bagi UMKM, serta memastikan digitalisasi membuka peluang bagi masyarakat kecil,” kata Dr. Ali.
la menambahkan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia harus tetap berlandaskan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial sebagaimana tercermin dalam Pancasila.
Diskusi panel juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara mekanisme pasar dan peran negara dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. Para pembicara sepakat bahwa ekonomi Indonesia tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan tinggi, tetapi juga harus memastikan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Peluncuran buku Pancasila Market Economy diharapkan menjadi awal lahirnya diskursus baru mengenai reformasi ekonomi Indonesia yang berpijak pada nilai Pancasila, sekaligus menjawab tantangan global menuju Indonesia Emas 2045. (Dina)






