Pekan Imunisasi Dunia 2026, Wamenkes Dante Soroti Pentingnya Vaksinasi Sepanjang Usia

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono. (Foto: Dina/majalahfakta.id)

FAKTA – Pekan Imunisasi Dunia (PID) diperingati pada 24 hingga 30 April 2026. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, peringatan kali ini mengusung tema Imunisasi Sepanjang Usia.

“Pekan Imunisasi Dunia 2026 temanya Imunisasi Sepanjang Usia. Jadi imunisasi ini adalah investasi yang murah tapi bisa mencegah penyakit berat yang bisa timbul di masa depan,” kata Dante dalam temu media di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Jika anak-anak mendapatkan imunisasi, sambungnya, maka mereka akan terlindungi dari penyakit-penyakit yang sebetulnya tidak perlu terjadi karena daya tahan tubuhnya baik.

Sebagian masyarakat menganggap bahwa imunisasi identik dengan anak-anak, padahal vaksinasi perlu dilakukan sepanjang usia. Pasalnya, imunisasi di era modern tidak hanya digunakan untuk mencegah penyakit menular tapi juga penyakit tidak menular.

“Seperti imunisasi HPV misalnya, ini untuk mencegah terjadinya kanker rahim di masa yang akan datang,” kata Dante.

Sayangnya, sambung Dante, di 2026 ini masih terjadi infodemik atau penyebaran informasi keliru terkait vaksin. Dia berharap, informasi keliru ini dapat dilawan dengan berita-berita aktual dengan sumber yang benar.

“Infodemik, disrupsi informasi yang begitu masif membuat beberapa informasi tentang imunisasi itu menjadi salah. Diharapkan kedatangan teman-teman jurnalis ini bisa meluruskan informasi, sehingga menyadarkan masyarakat untuk datang ke sentra-sentra vaksin,” harapnya.

Jutaan Anak Belum Diimunisasi Lengkap

Data Kemenkes menunjukkan, terdapat 1,45 juta anak tanpa imunisasi lengkap pada 2018 hingga 2022. Dan dari 17 juta anak usia 1–3 tahun, yang belum tuntas imunisasinya mencapai lebih dari 2,8 juta pada 2021–2023.

Guna menekan angka ini, peran informasi memang penting, menurut Dante. Sementara, isu akses sudah tidak lagi menjadi alasan untuk tidak divaksinasi.

“Ketersediaan vaksin, tenaga kesehatan, dan fasilitas penyuntikan sudah ada di tempat yang paling dekat dengan masyarakat. Misalnya, dulu imunisasi di rumah sakit, kemudian diturunkan ke puskesmas, sekarang bisa dilakukan imunisasi di posyandu. Itu kan posyandu di tingkat RW, jadi bisa dekat dengan masyarakat.”

“Jadi sebenarnya tidak ada alasan akses lagi untuk tidak imunisasi. Tapi memang masih ada satu juta lebih anak-anak yang tidak diimunisasi karena tadi di beberapa kantong (daerah) masih menganggap imunisasi ini tabu, imunisasi ini bahaya, bisa menyebabkan kecacatan pada anak,” ujarnya.

Maka dari itu, Dante menghimpun bantuan dari ahli, pemengaruh, media, dan organisasi internasional seperti United Nations Development Programme (UNDP) untuk meluruskan hoaks-hoaks tersebut.

“Semua imunisasi yang diberikan di tempat kita sudah melalui serangkaian uji klinik yang melihat efektivitas, efikasi, dan efek samping, sudah lulus kajiannya,” pungkasnya. (Dina)