FAKTA – Pemerintah Kabupaten Ngawi kembali menggelar tradisi sakral jemasan dan kirab pusaka dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-668 Kabupaten Ngawi. Kegiatan budaya yang sarat makna ini berlangsung khidmat mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai.
Acara diawali dengan prosesi jemasan pusaka, yaitu ritual pembersihan benda-benda pusaka peninggalan leluhur sebagai simbol penyucian dan penghormatan terhadap warisan sejarah. Setelah itu, dilanjutkan dengan kirab pusaka yang diikuti oleh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Forkopimda, tokoh budaya, serta tokoh masyarakat.
Prosesi sakral tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, dan turut dihadiri oleh Wakil Bupati Dwi Riyanto Jatmiko, Sekretaris Daerah, Ketua DPRD, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Dalam sambutannya, Bupati Ony Anwar Harsono menyampaikan bahwa tradisi jemasan dan kirab pusaka merupakan agenda rutin yang selalu dilaksanakan menjelang Hari Jadi Kabupaten Ngawi. Hal ini sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan budaya leluhur.
“Tradisi ini menjadi bagian penting dari identitas budaya kita. Warisan leluhur harus terus kita uri-uri sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan nilai-nilai yang telah diwariskan kepada kita,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ony menambahkan bahwa keberadaan pusaka, termasuk Kyai Parikesit, memiliki nilai filosofis yang mendalam bagi masyarakat. Menurutnya, pusaka tersebut mengandung pesan kehidupan bahwa dalam setiap kesulitan selalu terdapat jalan kemudahan.
Momentum Hari Jadi ke-668 Kabupaten Ngawi ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat untuk terus berinovasi dan kreatif dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Semoga masyarakat Ngawi dapat mengambil hikmah dari peringatan ini, serta terus bersemangat dalam membangun daerah dengan penuh kreativitas dan optimisme,” pungkasnya.
Tradisi jemasan dan kirab pusaka menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai budaya dan sejarah tetap hidup dan terjaga di tengah perkembangan zaman, sekaligus memperkuat jati diri masyarakat Kabupaten Ngawi. (Zamhari)






