Daerah  

Menembus Arus Modernisasi: Ider Dungo, Ikhtiar Bumiaji Menjaga Nadi Leluhur

Kades Bumiaji Edi Suyanto bersama warga melakukan ritual "Ider Dungo", Jumat (3/7/2026) malam. (Foto: mud/majalahfakta.id)

FAKTA – Malam turun. Jumat, 3 Juli 2026.
Desa Bumiaji menahan napas. Di tengah Kota Batu yang lampunya tak pernah padam, ada satu desa yang memilih sunyi. Tidak ada musik. Tidak ada sorak. Hanya kepulan asap dupa yang naik pelan, menembus dinginnya udara pegunungan, berpadu dengan bisik doa yang memecah keheningan malam Sabtu Pahing.

Inilah malam Ider Dungo. Puncaknya Bersih Desa Bumiaji.

Berbekal telanjang kaki dan hati yang ditundukkan, Kepala Desa Bumiaji, Edi Suyanto, memimpin barisan. Di belakangnya pamong, sesepuh, dan warga berjalan. Bukan pawai. Ini ziarah. Ini sowan.

Langkah mereka tertata searah jarum jam. Dari Balai Desa menuju Punden Mbah Batu. Lalu menepi ke peristirahatan Mbah Onggo, Mbah Sindu, Mbah Sabariman, Mbah Rondo Kuning. Berakhir di makam Mbah Karyo. Baru kembali pulang ke balai desa.

Dalam laku Jawa, melangkah searah jarum jam bukan kebetulan. Itu ajaran. Agar hidup selalu mengambil arah baik. Agar niat tidak pernah berbalik.

Sepanjang jalan, bibir terkunci. Puasa Bisu. Puasa Ngalam. Tidak bicara. Tidak menoleh pada dunia. Yang ada hanya batin yang diarahkan pada Sang Pencipta, pada bumi yang dipijak, pada leluhur yang dulu membuka hutan ini dari tanah tak bertuan.

Doa dipanjatkan bukan untuk meminta. Tapi untuk mengingat. Mengingat bahwa desa ini berdiri karena ada yang menanam pertama kali.

Di akhir perjalanan, meja selamatan terbentang. 14 tumpeng tertata. 12 untuk mengikat setahun. 2 lagi untuk mengikat tanggung jawab mereka yang memimpin.

“Tumpeng itu TUMuju marang PENGeran,” ujar Achmad Ruba’i, 74, sesepuh desa. “Bentuknya menjulang. Supaya kita ingat, setinggi apa pun cita-cita, doa harus lebih tinggi lagi.”

Di sampingnya ada Engkung Kalkun dan Sego Gurih. Bagi orang luar mungkin hanya hidangan. Bagi Bumiaji, itu pelajaran. Kalkun: tawakal dan tekun. Warisan para pendahulu tentang kepemimpinan mungkulno, tentang mengabdi sampai tuntas.

Kades Edi Suyanto menyebut malam itu sebagai kompas. “Bersih Desa bukan sekadar acara rutin. Ini cara kami bilang pada zaman: kami boleh maju, tapi tidak akan meninggalkan tanah yang melahirkan kami.”

Di zaman yang serba cepat, Bumiaji memilih melambat semalam. Di zaman yang serba bising, Bumiaji memilih diam. Karena mereka percaya, kemajuan tanpa akar akan rapuh. Dan identitas tanpa ritual akan hilang.

Ider Dungo bukan sekadar tradisi. Ia adalah janji. Janji bahwa generasi hari ini tidak hanya hidup di atas tanah leluhur. Tapi juga menjaga marwahnya, untuk diwariskan lagi. (F1015/mud)