FAKTA – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 tahun 2026 resmi ditutup pada Sabtu malam (11/7/2026) dan langsung disambung dengan gelaran Festival Bali Jani hingga 23 Juli mendatang. Namun, penutupan perhelatan akbar ini menyisakan riak kritik di jagat maya, di mana sebagian masyarakat mulai menyuarakan rasa bosan dan melabeli PKB sebagai tontonan yang monoton. Isu ini mencuat seiring derasnya arus teknologi dan media sosial yang membuat ruang kritik publik semakin terbuka lebar. Menanggapi miringnya tudingan tersebut, akademisi sekaligus seniman praktisi penerima penghargaan Adi Sewaka Nugraha, I Ketut Mangku Garwa, angkat bicara untuk meluruskan persepsi dangkal yang berkembang di masyarakat.
Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali ini menegaskan bahwa label “monoton” yang dilemparkan publik hanyalah cara pandang dari kulit luar yang tidak memahami kedalaman proses seni. Menurut Mangku Garwa, jika publik hanya melihat daftar acara dari tahun ke tahun yang selalu menampilkan Gong Kebiar, Beleganjur, atau Lomba Barong, maka sepintas lalu memang terlihat sama.
Padahal, jika mau membedah teks kekaryaan di dalam konten tersebut, para seniman Bali justru terus bergerak dinamis melahirkan transformasi ide, kreativitas, dan inovasi baru yang sangat luar biasa di setiap episodenya.
“Materi-materi yang ditampilkan itu setiap tahunnya ada tetap, tapi ada juga pergeseran pembaharuan pembaharuan sedikit-sedikit. Seperti misalnya gong kebiar anak-anak, gong kebiar dewasa, gong kebiar PKK, beleganjur, lomba barong, itu kan bisa dilihat dalam tanda kutip monotone, itu saja materinya kan begitu. Tetapi di dalam teks kekaryaan itu, saya yakin melihat ada perkembangan-perkembangan baru yang sangat kreatif dan inovatif oleh seniman-seniman Bali,” tegas Mangku Garwa meluruskan polemik.
Lebih lanjut, Mangku Garwa yang aktif melakukan pengabdian seni di seluruh lapisan masyarakat Bali ini menyatakan bahwa perkembangan seni di Pulau Dewata mustahil berada dalam kondisi statis.
Baginya, PKB bukan sekadar panggung hiburan musiman, melainkan sebuah ruang sakral yang berfungsi sebagai barometer tertinggi untuk mengukur sejauh mana kreativitas seni karawitan dan pertunjukan di Bali telah berkembang. PKB juga menjadi wadah konsolidasi dan ajang reuni akbar bagi para seniman, seniwati, hingga sastrawan lintas generasi dari seluruh pelosok Bali.
“Perkembangan seni itu di Bali sangat dinamis. Kalau memang didalami dari konten-konten yang disampaikan atau dalam peralatan akbar ini, kita merasa sangat bersyukur adanya Pesta Kesenian Bali yang dilakukan setiap tahunnya. Karena di sinilah kita bisa, dalam tanda kutip, juga bisa reuni dengan teman-teman, bisa bercampur di sini, bisa terukur sebagai barometer kreativitas karawitan seni di Bali itu ada di PKB,” urainya panjang lebar.
Menutup penjelasannya, Mangku Garwa memberikan edukasi kepada masyarakat untuk bisa membedakan pakem antara PKB dan Festival Bali Jani. Jika PKB memang dirancang sebagai benteng pelestarian tradisi agar tidak punah, maka bagi masyarakat yang haus akan kemasan modern dan pembaruan, ruangnya telah disediakan di Festival Bali Jani. Ia pun mengaku sangat bangga terhadap daya tahan dan daya cipta para komposer serta koreografer Bali yang tidak pernah kehabisan ide segar meski harus mengamankan materi lomba tradisional selama belasan tahun.
“Nanti setelah ini akan dibuka Festival Bali Jani yang di sana lebih pada inovasinya, lebih new-nya, lebih yang kebaruannya ada di sana, sampai pada kemasan kemasan yang modern. Kami sangat bangga sekali dengan seniman-seniman Bali sebagai penggarap, koreografer, komposer, luar biasa bisa menyampaikan ide-ide kreatif mereka sehingga memunculkan sebuah kemasan-kemasan sentuhan baru yang bisa kita saksikan setiap tahunnya,” pungkas dosen ISI Bali tersebut. (fa)






