FAKTA – Suatu pagi, seorang pria menerima kabar bahwa seorang sahabatnya mendapatkan kesempatan besar yang selama ini juga ia harapkan. Ia tersenyum dan mengucapkan selamat, tetapi setelah itu ia duduk sendirian. Ada sedikit rasa sesak di dada. Dalam hati muncul pertanyaan, “Mengapa bukan aku?” Ia hampir membiarkan perasaan itu tumbuh menjadi kecewa kepada keadaan. Namun ia kemudian terdiam dan menyadari sesuatu: bukankah rezeki, kesempatan, dan jalan hidup setiap orang berada dalam pengetahuan Allah? Ia pun mengambil wudu dan berdoa, “Ya Allah, lapangkan hatiku untuk menerima karunia-Mu kepada siapa pun yang Engkau kehendaki.” Perlahan, rasa sempit itu berubah menjadi ketenangan.
Alhamdulillah, Allah mengajarkan kita melalui Al-Qur’an bahwa rahmat dan karunia-Nya tidak pernah salah alamat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang mengajarkan kita kelapangan hati dan kasih sayang kepada sesama.
Allah berfirman:
مَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَلَا الْمُشْرِكِيْنَ اَنْ يُّنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ خَيْرٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan dari Tuhanmu. Akan tetapi, Allah secara khusus memberikan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah: 105)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan adanya orang-orang yang tidak senang ketika Allah memberikan kebaikan dan rahmat kepada kaum beriman. Namun ketidaksukaan manusia tidak akan menghalangi karunia Allah. Allah memberikan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.
Buya Hamka mengingatkan bahwa hati manusia perlu dilatih agar tidak sempit melihat kelebihan dan keberuntungan orang lain. Ketika seseorang mendapatkan rahmat Allah, semestinya kita tidak merasa kehilangan. Karunia Allah sangat luas. Kebahagiaan orang lain tidak mengurangi bagian yang Allah siapkan untuk kita.
CERMIN DIRI
Ketika melihat orang lain mendapatkan rezeki, kesempatan, kedudukan, kesehatan, keluarga yang bahagia, atau keberhasilan yang kita inginkan, apa yang pertama kali muncul di hati kita?
Mari belajar membedakan antara keinginan untuk menjadi lebih baik dan rasa tidak rela melihat orang lain lebih dahulu mendapatkannya. Kita boleh berharap mendapatkan kebaikan yang sama, tetapi jangan sampai harapan itu berubah menjadi keinginan agar nikmat orang lain hilang.
Sebaliknya, ketika Allah memberikan kelapangan kepada kita, jangan pula kita merasa lebih tinggi. Ingatlah bahwa semua itu adalah amanah dan karunia dari-Nya.
Mari belajar ikhlas melihat orang lain mendapat kelapangan. Sebab hati yang lapang tidak merasa kehilangan hanya karena orang lain mendapatkan lebih dahulu. Ia percaya bahwa Allah Maha Mengetahui kapan, kepada siapa, dan dalam bentuk apa rahmat-Nya diberikan.
Oleh Ustadz Iwan Muhajirin
Pendiri dan Pengelola Jejak Pemimpin Institute
7 Oktober 2026






