FAKTA – Matematika seringkali dianggap sebagai hantu di ruang kelas. Namun, bagi Dinas Pendidikan Jawa Barat, tantangan sesungguhnya bukan lagi soal rasa takut siswa, melainkan angka-angka nyata yang menunjukkan adanya “jurang” kompetensi. Menggandeng ITB, Jawa Barat kini sedang berupaya meretas jalan keluar demi mencetak generasi melek sains.
Di lantai Aula Dewi Sartika, kantor Disdik Jawa Barat, sebuah kenyataan pahit tersaji dalam bentuk data. Selasa (5/5/2026), atmosfer di ruangan itu tampak serius saat hasil pemetaan kompetensi matematika siswa se-Jawa Barat resmi dirilis. Hasilnya? Masih ada jarak yang cukup lebar antara target ideal dan realitas di lapangan.
Sekretaris Dinas Pendidikan (Sekdisdik) Jabar, Deden Saepul Hidayat, tidak menutup mata. Ia mengakui bahwa skor numerasi dalam Rapor Pendidikan Jawa Barat pada 2025 berada di angka 66,81. Meski terlihat cukup besar, angka ini nyatanya masih berada di bawah target yang dipatok sebesar 70,6.
“Ini adalah potret kondisi hasil belajar anak-anak kita. Data ini tidak hanya menjadi angka di atas kertas, tapi alarm untuk melakukan intervensi yang lebih serius,” ungkap Deden lugas.
Pemetaan yang dilakukan bersama para pakar dari FMIPA Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengambil sampel di wilayah strategis, yakni Cekungan Bandung—meliputi Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, hingga Sumedang.
Temuannya cukup menghentak. Di jenjang SMP, dari 3.402 siswa yang terlibat, hanya segelintir kecil—sekitar 1,18%—yang mampu mencapai Level IV atau level tertinggi dalam kompetensi matematika. Kondisi di tingkat SD pun tak jauh berbeda, dengan angka pencapaian level tertinggi hanya 1,79%. Sebagian besar siswa masih terjebak di Level I dan II, yang menunjukkan kemampuan dasar yang masih perlu dipoles tajam.
Kondisi kian pelik jika menilik ke arah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Luar Biasa (SLB). Di sana, kemampuan numerasi disebut jauh lebih memprihatinkan dan membutuhkan perhatian ekstra dari para pemangku kebijakan.
Korelasi dan Masa Depan
Bagi Disdik Jabar, rendahnya rapor numerasi ini bukan berdiri sendiri. Ada benang merah yang sangat kuat antara rapor mutu pendidikan dengan hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA). Artinya, jika dasar numerasinya lemah, maka prestasi akademik secara umum akan sulit melesat.
Mata kini tertuju pada tanggal 26 Mei mendatang, saat hasil TKA untuk jenjang SD dan SMP diumumkan secara nasional. Data tersebut akan menjadi pelengkap puzzle untuk memetakan ke mana arah kebijakan pendidikan Jabar selanjutnya.
Namun, menyalahkan siswa bukanlah jalan keluar. Disdik Jabar menyadari bahwa “obat” dari rendahnya nilai numerasi ini terletak pada kualitas pengajaran. Tim ITB dan Disdik bersepakat: intervensi harus menyasar guru terlebih dahulu.
“Kita tidak bisa berharap layanan pendidikan meningkat jika kompetensi gurunya tidak kita perkuat,” tegas Deden. Strategi ke depan tidak hanya soal kurikulum, tapi juga uji kompetensi dan pelatihan intensif bagi para pendidik, khususnya di bidang STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).
Jawa Barat sedang berupaya agar matematika tidak lagi menjadi momok yang menjauhkan siswa dari sains. Dengan kerja sama lintas sektoral bersama institusi sekelas ITB, misi besarnya jelas: membawa siswa-siswi Bumi Pasundan tidak hanya pandai berhitung, tapi juga tajam dalam logika dan pemecahan masalah.
Langkah sudah diambil, data sudah di tangan, kini tinggal menanti sejauh mana gerak cepat ini mampu mengubah ‘rapor merah’ menjadi prestasi yang gemilang. (Elvinyos)






