FAKTA – Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tabalong angkat bicara menanggapi keluhan sejumlah lulusan Balai Latihan Kerja yang belum mendapatkan pekerjaan. Menyikapi isu yang ramai di media sosial, Disnaker menegaskan bahwa pelatihan difokuskan pada peningkatan kompetensi, bukan jaminan penempatan kerja.
Isu terkait sulitnya mendapatkan pekerjaan bagi lulusan pelatihan BLK Tabalong belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Bahkan, muncul anggapan bahwa untuk bisa bekerja di perusahaan harus melalui “orang dalam”, serta persepsi bahwa Disnaker kurang memedulikan nasib peserta pasca pelatihan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Disnaker Tabalong, Hady Ismanto, menyampaikan pihaknya telah merespons keluhan para peserta, baik melalui media sosial maupun dengan mengundang langsung peserta pelatihan untuk berdialog.
Menurutnya, sejak awal Disnaker tidak pernah menjanjikan pekerjaan kepada peserta. Fokus utama pelatihan adalah memberikan keterampilan dan kompetensi sesuai standar kebutuhan dunia kerja. Dari bekal tersebut, peserta diharapkan mampu bersaing untuk mendapatkan kesempatan magang maupun pekerjaan.
Terkait isu praktik “orang dalam”, Disnaker memastikan akan menindaklanjuti jika terdapat bukti yang jelas. Klarifikasi ini dinilai penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Di media sosial memang ada informasi yang kami dengar, mereka menanyakan bagaimana nasib kami. Jadi saya cuma memberikan arahan, memang selama ini kami tidak pernah menjanjikan sebuah pekerjaan, tapi yang kami janjikan adalah standar kompetensi yang sesuai dengan pelatihan yang kami laksanakan. Dari modal itulah yang mereka harus berkompetisi untuk bersaing dengan teman-teman untuk masuk program pemagangan, bahkan untuk bekerja. Kami ingin mengklarifikasi, di luar sana ada image yang mengatakan bahwa untuk bekerja harus ada orang dalam, ini saya yang mau tepis, kalau memang seandainya ada orang dalam kita cek ricek seperti itu,” ujar Hady Ismanto, Kepala Disnaker Tabalong.
Selain itu, Disnaker Tabalong juga terus membuka akses informasi lowongan kerja dan program pemagangan secara luas. Namun diakui, perusahaan memiliki standar seleksi yang cukup ketat, mulai dari usia, kompetensi, hingga kondisi kesehatan, yang kerap menjadi kendala bagi sebagian pelamar.
Di sisi lain, salah satu alumni pelatihan alat berat, Dzulkifli, mengaku berhasil mendapatkan pekerjaan melalui usaha mandiri. Ia menyebut harus melalui proses panjang dengan mengirim puluhan lamaran selama lebih dari tiga bulan. Dzulkifli juga membantah adanya praktik “orang dalam” dalam proses rekrutmen yang ia jalani. Menurutnya, keberhasilan tersebut murni hasil kerja keras dan ketekunan.
“Alhamdulillah sudah bekerja, itu pun beberapa kali mencoba, tidak satu kali mengantar berkas langsung diterima. Berkali-kali saya mencoba terus. Proses saya sampai bekerja itu sekitar tiga bulan lebih, itu saya terus mengantar lamaran, yang penting kita tidak mudah putus asa,” ujar Dzulkifli, alumni pelatihan alat berat tahap 1.
Disnaker Tabalong berharap para lulusan pelatihan terus meningkatkan kesiapan diri, berani keluar dari zona nyaman, serta aktif mencari peluang kerja maupun berwirausaha demi meningkatkan kesejahteraan secara mandiri. (tbl/eya)






