FAKTA – Sabtu pagi, 20 Juni 2026, halaman Sekolah Rakyat Menengah Pertama 14 Kota Batu tidak sepi. Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto hadir di tengah open house, menyaksikan langsung 148 siswa asrama berjalan tegap dalam baris-berbaris, lalu tertawa lepas saat naik egrang. Di sudut lain ada yang khusyuk menggores kaligrafi, membatik, sampai merawat tanaman pangan.
Bagi Heli, Sekolah Rakyat bukan sekadar ruang kelas gratis. “Anak-anak ini dapat hak pendidikan, iya. Tapi yang kita tanam juga karakter, disiplin, dan skill buat bertahan,” katanya sambil menunjuk deretan karya batik siswa.
SRMP 14 Batu menampung siswa dari keluarga kurang mampu se-Jawa Timur yang masuk DTSEN desil 1 dan 2. Banyak dari mereka nyaris putus sekolah sebelum akhirnya tinggal dan belajar di asrama tanpa biaya.
Kurikulumnya sengaja dibuat melebar. Selain pelajaran umum, ada seni bantengan, budidaya pangan, sampai latihan kemandirian. Tujuannya satu: lulus bukan cuma bawa ijazah, tapi juga percaya diri dan punya bekal hidup.
Heli sempat mengecek ruang kelas dan fasilitas pendukung. Catatannya singkat. Secara umum sudah menunjang, tapi laboratorium masih perlu ditambah agar praktik siswa lebih maksimal.
Kepala SRMP 14 Batu Yuliana menyebut program ini sebagai ikhtiar nyata memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan. Dengan asrama gratis dan pembinaan karakter, anak yang dulu rentan putus sekolah kini punya peluang sama untuk masa depan.
Pemkot Batu menegaskan dukungan penuh. Sekolah Rakyat diharapkan jadi jembatan bagi anak-anak kurang mampu agar tetap sekolah, terampil, dan siap menghadapi dunia. (F1015/mud)






