Mari Menjaga Janji yang Sudah Kita Ucapkan

Mari kita berhenti sejenak dan mengingat kembali janji-janji yang pernah kita ucapkan. (Foto : Dok Ust Iwan Muhajirin)

PESAN INDAH AL-QUR’AN 0098

FAKTA – Suatu malam saya pernah teringat sebuah janji kecil yang pernah saya ucapkan kepada seseorang. Waktu mengucapkannya, saya begitu yakin akan menepatinya. Tetapi hari-hari berlalu, kesibukan datang, dan janji itu perlahan terlupakan. Malam itu saya merasa tidak nyaman. Bukan karena orang tersebut menagihnya, tetapi karena hati saya sendiri tahu bahwa ada ucapan yang belum saya tunaikan. Dari sana saya belajar, ternyata menjaga janji bukan hanya soal hubungan kita dengan manusia. Ia juga mencerminkan seberapa serius kita menghargai amanah di hadapan Allah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang mengajarkan kepada kita arti amanah, kejujuran, dan kesetiaan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan utama dalam menjaga amanah dan memenuhi janji.

Allah berfirman:

أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَّبَذَهٗ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ ۗ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Patutkah setiap kali mereka mengadakan suatu perjanjian, sebagian mereka melemparkannya? Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.” (QS. Al-Baqarah: 100)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mencela sikap mengingkari perjanjian. Ketika sebuah janji telah dibuat, sebagian dari mereka justru membuang dan meninggalkannya. Dalam konteks ayat, hal itu berkaitan dengan sikap terhadap perjanjian dan ketentuan Allah yang telah mereka ketahui.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengingatkan bahwa kehidupan manusia dibangun di atas kepercayaan. Ketika janji dan amanah tidak dijaga, kepercayaan akan rusak dan hubungan antarmanusia ikut kehilangan fondasinya. Karena itu, menepati janji bukan perkara kecil, tetapi bagian dari akhlak yang menjaga kehormatan manusia.

Cermin Diri

Mari kita berhenti sejenak dan mengingat kembali janji-janji yang pernah kita ucapkan. Kepada Allah. Kepada pasangan. Kepada anak. Kepada orang tua. Kepada sahabat. Kepada rekan kerja. Bahkan kepada seseorang yang mungkin sudah tidak pernah lagi menanyakannya.

Adakah janji yang masih tertunda? Jika masih mungkin ditunaikan, mari tunaikan. Jika ada kesalahan karena kita pernah mengingkarinya, mari akui dan perbaiki. Jangan menunggu sampai orang lain menagihnya.

Keimanan bukan hanya terlihat dari banyaknya kata yang kita ucapkan, tetapi juga dari kesungguhan kita memegang amanah yang telah dipercayakan.

Mari menjaga janji yang sudah kita ucapkan. Karena sekali janji diberikan, ada kepercayaan yang ikut kita terima. Dan menjaga kepercayaan adalah bagian dari menjaga kehormatan diri di hadapan manusia dan di hadapan Allah.

Oleh Ustadz Iwan Muhajirin

Pendiri dan Pengelola Jejak Pemimpin Institute

2 Oktober 2026