Sumatera Barat masih berstatus daerah endemis rabies. Pemko Padang menyiapkan 1.400 dosis vaksin gratis pada 2026 dan mulai memperkuat pengendalian populasi anjing liar.
Padang, majalahfakta.id — Sumatera Barat masih menghadapi ancaman rabies. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat mencatat 53 kasus positif rabies pada hewan hingga September 2026. Pemerintah Kota Padang merespons kondisi tersebut dengan memperkuat vaksinasi, edukasi masyarakat, dan pengendalian populasi hewan penular rabies.
Upaya itu ditegaskan dalam peringatan World Rabies Day 2026 tingkat Provinsi Sumatera Barat yang digelar di halaman Kantor Camat Padang Selatan, Senin, 28 September 2026.
Kegiatan bertema “Stronger Together” tersebut dibuka Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir. Peringatan melibatkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Sumbar, serta Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Sumbar.
Maigus mengatakan rabies merupakan penyakit menular yang berbahaya sehingga pencegahannya tidak dapat hanya mengandalkan intervensi pemerintah.
“Pengendalian rabies tidak cukup dilakukan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh potensi masyarakat,” ujar Maigus dalam kegiatan tersebut.
Menurut dia, risiko rabies sangat serius karena penyakit tersebut dapat menyebabkan kematian setelah gejala klinis muncul. Karena itu, masyarakat perlu memahami langkah pencegahan sekaligus mengetahui tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi gigitan atau cakaran hewan yang berpotensi membawa virus rabies.
Pemko Padang telah menyiapkan 1.400 dosis vaksin rabies gratis sepanjang 2026. Hingga saat ini, vaksinasi telah diberikan kepada 421 anjing dan kucing peliharaan.
Vaksinasi menjadi salah satu intervensi utama untuk mengurangi risiko penularan rabies dari hewan kepada manusia.
Namun, pemerintah kota tidak hanya mengandalkan vaksinasi hewan peliharaan. Pengendalian populasi anjing liar juga menjadi agenda yang akan diperkuat.
Mulai 2027, Pemko Padang berencana melibatkan Dubalang Kota, forum RT/RW, dan berbagai komunitas masyarakat dalam upaya pengendalian populasi anjing liar.
Maigus juga meminta edukasi mengenai rabies diperluas hingga tingkat masyarakat paling bawah.
Forum RT dan RW, kelurahan, sekolah, komunitas, kelompok berburu, hingga perguruan tinggi dinilai dapat menjadi saluran penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya rabies dan cara mencegah penularannya.
Ia juga mendorong pemberdayaan Dubalang Kota di setiap kelurahan untuk membantu sosialisasi sekaligus pengawasan di lingkungan masyarakat.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat Sukarli mengatakan Sumbar hingga kini masih tergolong daerah endemis rabies.
Berdasarkan catatan hingga September 2026, terdapat 53 kasus positif rabies pada hewan.
Sukarli mengingatkan masyarakat bahwa rabies dapat dicegah jika vaksinasi dan penanganan dilakukan sedini mungkin.
Ia juga meminta masyarakat tidak menunda penanganan apabila digigit atau dicakar hewan yang dicurigai terinfeksi.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencuci luka menggunakan air mengalir dan sabun selama sekitar 15 menit, kemudian segera mendapatkan penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Penanganan awal tersebut penting sebelum korban memperoleh tindakan medis lebih lanjut.
Ketua PDHI Cabang Sumbar Wahidin Beruh mengatakan peringatan World Rabies Day 2026 di Padang menjadi momentum memperkuat kerja bersama antara pemerintah dan organisasi profesi.
Menurut dia, penanggulangan rabies membutuhkan pendekatan yang melibatkan aspek kesehatan hewan, kesehatan masyarakat, edukasi, serta pengawasan lingkungan.
Rangkaian kegiatan peringatan tahun ini tidak hanya berupa seremoni. Panitia menggelar vaksinasi rabies massal bagi anjing dan kucing, edukasi dan komunikasi di sekolah mulai tingkat SD hingga SMA di Kecamatan Padang Selatan, serta pemeriksaan dan pengobatan hewan di tiga shelter.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk mendekatkan informasi mengenai rabies kepada masyarakat sekaligus memperluas akses terhadap layanan kesehatan hewan.
Ancaman rabies menempatkan pengendalian hewan penular penyakit sebagai persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan sektor kesehatan hewan, kesehatan manusia, organisasi profesi, sekolah, komunitas, hingga masyarakat pemilik hewan.
Tema “Stronger Together” dalam World Rabies Day 2026 pun menekankan kebutuhan tersebut.
Bagi Padang, strategi pengendalian rabies kini diarahkan pada tiga lapis intervensi: mencegah penularan melalui vaksinasi, meningkatkan kesadaran masyarakat melalui edukasi, dan mengendalikan populasi hewan berisiko.
Dengan masih ditemukannya 53 kasus positif rabies pada hewan di Sumatera Barat hingga September, penguatan tiga langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menekan risiko penularan penyakit yang dapat berakibat fatal tersebut. (SS)






