79 Tahun Semangat TRIP: Ketika Pelajar Dulu Mengangkat Senjata, Kini Kita Mengangkat Ilmu

Foto bersama peserta kegiatan penghormatan di Monumen Pahlawan TRIP, Malang. Mengingat sejarah, meneladani semangat juang para pelajar pejuang TRIP dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (foto: mud/majalahfakta.id)

FAKTA – Jumat pagi, 31 Juli 2026. Di Taman Makam Pahlawan TRIP Kota Malang, suasana hening. Ratusan orang berdiri khidmat, menunduk, lalu menabur bunga di pusara para pahlawan muda.

Itu adalah peringatan 79 tahun gugurnya para Tentara Republik Indonesia Pelajar, atau TRIP. Mereka bukan tentara profesional. Mereka anak sekolah yang meninggalkan bangku kelas, mengangkat senjata, dan bertempur di jalanan Malang pada 1947 untuk mempertahankan kemerdekaan.

Upacara tahun ini dipimpin Ketua Umum MASTRIP Jawa Timur, Destry Damayanti. Hadir pula Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, unsur TNI-Polri, serta anggota keluarga besar MASTRIP dari berbagai daerah.

Rangkaian acara sederhana tapi penuh makna: penghormatan, peletakan karangan bunga, lalu tabur bunga. Puncaknya, penampilan teatrikal kolosal yang menghidupkan kembali pertempuran di Jalan Salak. Jalan itu kini kita kenal sebagai Jalan Pahlawan TRIP. Di sanalah banyak pelajar gugur, dengan seragam lusuh dan semangat yang tidak pernah padam.

Gubernur Khofifah dalam wawancaranya mengingatkan satu hal penting:
“Perjuangan hari ini sudah berbeda. Dulu mereka melawan dengan bambu runcing dan keberanian. Sekarang giliran kita melawan kebodohan, ketertinggalan, dan kemiskinan. Caranya dengan belajar sungguh-sungguh, menguasai sains, teknologi, dan berkarya untuk bangsa.”

Pesan itu juga yang dibawa Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto. Kehadirannya disebut sebagai bentuk penghormatan Pemkot Batu sekaligus pengingat agar nilai patriotisme tidak berhenti di upacara. Harus hidup di sekolah, di kampus, di tempat kerja, dan di tindakan kecil sehari-hari.

79 tahun sudah berlalu. Para pejuang TRIP sudah tiada, tapi namanya tetap ada di nama jalan, di buku sejarah, dan di semangat anak muda hari ini.

Pertanyaannya sekarang bukan siapa yang akan berjuang, tapi dengan cara apa kita melanjutkan perjuangan itu? (Mud)