Bantengan Mengaum Lagi, Nuswantantara 2026 Jadikan Kota Batu Panggung Budaya Nasional

FAKTA – Kota Batu bersiap menjadi saksi. Pada Minggu, 2 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB, arak-arakan banteng raksasa akan kembali menggetarkan jalanan. Bukan sekadar pertunjukan, “Bantengan Nuswantantara Tahun 2026” hadir sebagai penegasan: di tengah derasnya budaya pop, akar tradisi justru harus dirayakan lebih lantang.

Dengan mengusung tagline “Budaya Kuat, Kota Batu Hebat, Indonesia Bermartabat”, acara ini akan menempuh rute ikonik: Start dari Stadion Jl. Agus Salim – Alun-alun Kota Batu – Finish di Balai Kota Batu. Sepanjang rute, penonton akan disuguhi hentakan kendang, sorak penari, dan kemegahan kostum banteng yang diperankan dua orang di dalamnya – simbol kekuatan, keberanian, dan kebersamaan masyarakat agraris Nusantara.  

“Ini bukan tontonan, ini pewarisan”

Ketua Paguyuban Bantengan Malang Raya, Ki Suroso Ngaliyan, menyebut Nuswantantara sebagai upaya merawat memori kolektif.

“Bantengan itu napas kami. Dulu untuk tolak bala, sekarang untuk menyatukan. Lewat Nuswantantara, anak muda Kota Batu bisa lihat langsung, bisa ikut merasakan getaran tanah ketika banteng menari. Kalau tidak kita yang menjaga, siapa lagi?” ujarnya.

Senada, Wali Kota Batu yang juga mendukung penuh kegiatan ini menegaskan bahwa budaya adalah fondasi pembangunan karakter kota wisata.

“Kota Batu tidak hanya ingin dikenal karena apel dan wisatanya. Kami ingin dunia tahu, di sini budaya hidup dan berjalan di jalanan. Bantengan Nuswantantara adalah bukti Kota Batu menghormati leluhur sambil menyambut masa depan,” katanya.

Dari sisi keamanan, Kepolisian Kota Batu mengambil peran sentral. Melalui imbauan “Polisi Mengimbau”, masyarakat diajak menjadi tuan rumah yang baik.

“Kami imbau warga dan wisatawan untuk mengikuti arahan petugas, patuh rambu lalu lintas, jaga barang bawaan dan anak, serta buang sampah pada tempatnya. Hindari membawa benda berbahaya dan miras. Mari bersama jaga agar acara ini aman, tertib, dan lancar,” kata Kapolres Batu dalam rilis kegiatan. Untuk itu disiapkan pengamanan terpadu, sinergi lintas instansi, pos layanan kesehatan, pengaturan lalu lintas, dan tim kebersihan di sepanjang jalur. Layanan darurat Polisi 110 juga disiagakan.

Lebih dari sekadar karnaval

Bantengan Nuswantantara 2026 sengaja digelar terbuka dan gratis. Tujuannya sederhana: mengembalikan ruang publik sebagai ruang budaya. Anak sekolah, wisatawan, hingga komunitas seni dari luar daerah diundang untuk melihat, belajar, dan ikut menjaga.

Di era digital, pertunjukan seperti ini menjadi penyeimbang. Ketika semua serba cepat dan instan, bantengan mengajak kita melambat, mendengar, dan merasakan.

Seperti pesan yang tertera di akhir poster: “Jangan Berhenti Berbuat Baik”. Dan salah satu bentuk berbuat baik itu adalah tidak membiarkan tradisi mati.

Catat tanggalnya. 2 Agustus 2026. Biarkan Kota Batu bergemuruh lagi — bukan oleh bising kendaraan, tapi oleh gema budaya Nusantara. (mud)