Daerah  

Implementasi ESG di The Nusa Dua Mampu Tingkatkan Efisiensi Penggunaan Air Hingga 40 Persen Melalui Sistem Daur Ulang

FAKTA – InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui anak usahanya, ITDC Nusantara Utilitas (ITDC NU), terus memperkuat implementasi pengelolaan kawasan pariwisata berkelanjutan melalui pengembangan sistem Integrated Waste Management dan utilitas terintegrasi di kawasan The Nusa Dua. Komitmen tersebut mendapat perhatian serius dalam kunjungan kerja Komisi VII DPR RI pada Selasa (5/5/2026), yang dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty, Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau langsung infrastruktur hijau di kawasan seluas 350 hektar tersebut yang kini menaungi lebih dari 20 hotel internasional dengan kapasitas sekitar 5.000 kamar.

Plt. Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, memaparkan bahwa The Nusa Dua yang dikembangkan sejak 1973 telah bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang masif dengan menyerap kurang lebih 21.000 tenaga kerja dan melayani sekitar 3,8 juta kunjungan wisatawan setiap tahunnya. “The Nusa Dua merupakan bukti nyata keberhasilan pengembangan kawasan pariwisata terintegrasi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengedepankan keberlanjutan lingkungan melalui sistem utilitas dan pengelolaan limbah yang modern, terintegrasi, dan berbasis sirkular,” ujarnya di hadapan rombongan DPR RI.

Dalam hal pengelolaan limbah, Ahmad Fajar merincikan bahwa produksi sampah di kawasan The Nusa Dua saat ini mencapai sekitar 32,3 ton per hari. Melalui Integrated Waste Management System, sekitar 70,5 persen di antaranya merupakan sampah organik yang diolah kembali menjadi kompos. Secara keseluruhan, ITDC berhasil mengelola 95 persen sampah kawasan secara sistematis melalui pendekatan circular economy. Selain sampah, sistem circular water yang diterapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 40 persen, di mana seluruh kebutuhan irigasi lanskap berasal dari air daur ulang hasil pengolahan limbah.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian angka-angka efisiensi tersebut. Menurutnya, pemanfaatan teknologi desalinasi Seawater Reverse Osmosis (SWRO) dan pengolahan air berbasis sirkular di ITDC adalah solusi strategis bagi ketahanan air bersih jangka panjang di destinasi wisata bahari. Dari sisi energi, penggunaan LNG sebagai substitusi LPG telah berkontribusi pada penurunan emisi sebesar 12 persen. Dengan target 25 persen pasokan listrik utilitas dari energi terbarukan, kawasan ini diproyeksikan mampu menghasilkan reduksi emisi hingga 984 ton CO₂ per tahun.

“The Nusa Dua menjadi model nyata kawasan pariwisata terintegrasi berbasis ESG yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan melalui sistem sirkular dan infrastruktur hijau,” pungkas Ahmad Fajar menutup penjelasannya.

Model pengembangan ini dinilai memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai destinasi nasional lainnya sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global. (fa)