Menghidupkan Ruhana Kuddus dari Pinggiran Sejarah melalui Layar Dokumenter

Diskusi film dokumenter “Roehana Koeddoes: Cahaya dari Minang” yang digelar di Auditorium Perpustakaan Panglima Itam, NasDem, Jakarta pada Selasa. (28/4/2026). (Foto: Dina/majalahfakta.id)

FAKTA – Diskusi film dokumenter “Roehana Koeddoes: Cahaya dari Minang” yang digelar di Auditorium Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower Lt. 5, Selasa (28/4/2026), menjadi ruang refleksi atas kiprah perempuan pelopor yang lama terpinggirkan dalam narasi besar sejarah Indonesia.

Acara ini menghadirkan Lestari Moerdijat (Wakil Ketua MPR RI) sebagai pengantar diskusi. Sementara itu, tiga narasumber turut memberikan pandangan, yakni Yenny Narny (Guru Besar Sejarah FIB Universitas Andalas), Evi Mariani (Pemimpin Umum Project Multatuli), serta Hasril Chaniago (penulis biografi Ruhana Kuddus). Diskusi dipandu oleh Lisda Hendrajoni, anggota DPR RI.

Dalam pemaparannya, Yenny Narny menekankan bahwa sosok Ruhana Kuddus selama ini kurang dikenal bukan karena minim kontribusi, melainkan karena bias dalam penulisan sejarah.

“Media tidak adil padanya, dan sejarawan juga tidak adil. Sejarah sering kali menjadi milik pemenang, sementara Ruhana tidak berada dalam arena itu,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Ruhana bergerak dalam ruang sosial yang sunyi, jauh dari sorotan politik arus utama.

“Dia tidak tampil dalam keriuhan. Dia bekerja di belakang, dalam kondisi sosial yang penuh keterbatasan, tetapi mampu menjawab persoalan zamannya,” kata Yenny.

Menurutnya, film dokumenter karya sutradara Santi menjadi medium penting untuk mengangkat kembali sosok Ruhana ke ruang publik. Selama ini, kata dia, Ruhana lebih banyak “tersimpan” dalam karya akademik.

“Ruhana tidak lagi hanya berada di rak skripsi, tesis, atau disertasi. Film ini menariknya keluar dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas,” ungkapnya.

Yenny juga menyoroti kekuatan visual dalam membangun keterlibatan emosional penonton. Ia menilai film tersebut berhasil menghadirkan sisi kemanusiaan dan pergulatan batin Ruhana.

“Film ini mampu membangun empati. Apa yang kita baca tidak sekuat ketika divisualisasikan. Visual itu langsung menyentuh emosi,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menyebut film ini sebagai upaya menghidupkan memori kolektif.

“Apa yang ada dalam ingatan keluarga, murid, dan lingkungan Amai Setia, itu diangkat kembali. Dalam sejarah, itu disebut memori kolektif yang dibangun ulang,” katanya.

Dalam konteks historiografi, Yenny menegaskan bahwa Ruhana tidak perlu ditempatkan dalam kategori menang atau kalah. “Dia adalah sosok yang berhasil menjawab kondisi sosial pada masanya. Itu yang harus kita pahami,” tegasnya.

Diskusi ini juga menegaskan bahwa masih banyak tokoh perempuan lain yang mengalami nasib serupa berjuang dalam keterbatasan tanpa sorotan luas.

“Banyak perempuan besar seperti Ruhana yang bekerja dalam sunyi, tetapi jejaknya menopang masa depan bangsa,” tutup Yenny.

Melalui forum ini, film dokumenter tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sarana penting untuk mengoreksi ketimpangan historiografi sekaligus menghidupkan kembali tokoh-tokoh yang selama ini berada di pinggiran sejarah. (Dina)