Dukung Petani Lokal, PT AAL Siapkan Program Pendampingan Sawit 170 Hektare

FAKTA – Perusahaan perkebunan sawit PT Astra Agro Lestari (AAL) yang beroperasi di Desa Hayup, Kecamatan Haruai, menyatakan kesiapan untuk mendukung pengembangan petani kelapa sawit di Kabupaten Tabalong melalui program pendampingan dan pembinaan.

Hal tersebut disampaikan CD Area Manager PT AAL Kalimantan Selatan, Agus Budiarto, saat menerima kunjungan Komisi II DPRD Tabalong pada 6 April 2026. Ia menjelaskan, pihak perusahaan siap bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian Tabalong (DKP3) untuk memberikan pendampingan kepada kelompok tani dengan luas lahan sekitar 170 hektare.

Menurut Agus, skema pendampingan masih akan dibahas lebih lanjut bersama pemerintah daerah, termasuk bentuk dukungan yang akan diberikan. Namun pada prinsipnya, program tersebut akan mencakup pelatihan dan pembinaan teknis bagi petani, khususnya dalam budidaya kelapa sawit.

Selain sebagai upaya untuk meningkatkan produksi olahan sawit di PT AAL, pembinaan terhadap masyarakat ini juga diharapkan mampu mendongkrak pendapatan asli daerah yang saat ini dinilai kecil melalui keberadaan perkebunan sawit rakyat.

“Ini kan kita akan melakukan kerja sama dengan dinas perkebunan sesuai dengan proposal mereka yang meminta pendampingan, jadi ada sekitar 170 hektare, terdiri dari beberapa kelompok tani yang nanti akan bekerja sama dengan kita untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat yang akan membuka kebun sawit. Makanya ini akan kita bahas dengan dinas ketahanan pangan, apa saja yang akan kita berikan. Pada prinsipnya kita siap untuk melakukan pembinaan, hanya saja kita ingin mengetahui kebutuhannya seperti apa, apakah cukup pendampingan atau juga pelatihan, ini akan segera kita duduk bersama dengan dinas,” ujar Agus Budiarto, CD Area Manager PT AAL Kalimantan Selatan.

Sementara itu, CDO PT AAL, Bambang Budiansyah, menambahkan bahwa minat masyarakat untuk mengembangkan kebun sawit saat ini cukup tinggi. Menjawab kekhawatiran petani terkait daya tampung perusahaan, ia memastikan kapasitas pabrik masih mencukupi untuk menerima hasil panen masyarakat.

Ia juga mengungkapkan bahwa perusahaan tengah melakukan program peremajaan tanaman secara bertahap dengan luasan mencapai lebih dari 1.000 hektare dari total sekitar 2.500 hektare kebun sawit di wilayah tersebut. Proses ini diperkirakan membutuhkan waktu cukup panjang hingga tanaman kembali produktif secara optimal, yakni sekitar 7 hingga 10 tahun, bahkan hingga 15 tahun untuk mencapai kondisi normal.

“Masyarakat sekarang sudah berlomba-lomba untuk membuat kebun sawit. Kekhawatiran yang muncul adalah apakah ke depan saat kondisi perusahaan sudah normal masih bisa menampung hasil sawit masyarakat. Saat ini kapasitas pabrik kita 45 ton per jam dan baru terpenuhi sekitar 36 ton per jam, artinya masih ada ruang yang cukup besar. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir terhadap penerimaan sawit di PT AAL. Mudah-mudahan dengan kondisi ini perusahaan yang berada di Kabupaten Tabalong bisa berkontribusi kepada masyarakat, setidaknya dalam penyerapan hasil panen sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan daerah,” tutur Bambang Budiansyah, CDO PT AAL.

Melalui kerja sama ini, diharapkan perusahaan dan pemerintah daerah dapat bersinergi dalam meningkatkan produktivitas petani sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan kontribusi sektor perkebunan terhadap pendapatan daerah. (tbl/eya)